Oleh : Ir. H. Farhat Umar, MSc.

Ustadz Farhat UmarSaat ini kita sedang memasuki bulan Shafar. Sebagian masyarakat memiliki anggapan bahwa bulan Shafar adalah bulan yang membawa sial, naas, dan penuh dengan malapetaka. Karena adanya anggapan bahwa shafar adalah bulan sial, maka tidak boleh mengadakan hajatan pada bulan tersebut, atau melakukan pekerjaan-pekerjaan penting lainnya karena akan mendatangkan bencana, atau kegagalan dalam pekerjaannya itu. Anggapan dan keyakinan seperti tersebut di atas merupakan warisan dari tradisi Jahiliyyah terdahulu.

Menganggap sial waktu-waktu tertentu, atau hewan-hewan tertentu, atau sial karena melihat adanya peristiwa dan mimpi tertentu sebenarnya hanyalah khayalan dan khurafat belaka. Hal ini ini merupakan sebuah keyakinan yang menunjukkan lemahnya aqidah dan tauhid kita saat mempercayai keyakinan tersebut.

Alhamdulillah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang diutus oleh Allah subhanahu wata'ala dengan membawa misi utama berdakwah kepada tauhid dan memberantas segala bentuk kesyirikan telah menepis anggapan dan keyakinan yang bengkok tersebut. Beliau shallallahu "alaihi wasallam bersabda:

"Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), lidak ada thiyarah, tidak ada kesialan karena hurting hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Shafar. " (HR. Al-Bukhari. Muslim, Abu Dawud. dan Ahmad).

 

Nabi shallallahu "alaihi wasallam menolak keyakinan orang-orang Musyrikin Jahiliyyah yang menganggap bulan Shafar sebagai bulan sial, mereka mengatakan bahwa bulan Shafar adalah bulan bencana. Rasulullah shallallahu "alaihi wasallam pun menepis kebenaran anggapan tersebut. Bulan Shafar itu seperti bulan-bulan lainnya. Padanya ada kebaikan. ada juga kejelekan. Bulan Shafar tidak bisa memberikan pengaruh apa-apa. Bulan tersebut sama seperti waktu-waktu lainnya yang telah Allah subhanahu wata'ala jadikan sebagai kesempatan untuk melakukan amal-amal yang bermanfaat.

Keyakinan ini terus menerus ada pada sebagian umat Islam hingga hari ini. Ada di antara mereka yang menganggap sial bulan Shafar. ada yang men'ganggap sial hari-hari tertentu. seperti hari selasa, atau hari Sabtu atau hari-hari lainnya. Sehingga pada hari-hari tersebut mereka tidak berani melangsungkan pernikahan atau hajatan yang lain, karena mereka meyakini atau menganggap bahwa pernikahan pada hari-hari tersebut bisa menyebabkan ketidakharmonisan rumah tangga.

Ada pula yang berkeyakinan kalau mendengar burung gagak. melihat burung hantu. berpapasan dengan kucing hitarn, atau yang lainnya. maka sebentar lagi akan celaka, atau akan ada orang meninggal. atau yang lainnya. dan seterusnva dari anggapan-anggapan negatif.

Anggapan Sial Terhadap Waktu-Waktu Tertentu Adalah Kesyirikan

Dalil-dalil yang ada di dalam Al-Qu'an dan hadits demikian jelas menyatakan keharaman kebiasaan tersebut. Perbuatan atau anggapan sial seperti itu termasuk kesyirikan dan tidak ada pengaruhnya dalam memberikan kemanfaatan atau menolak kemudharatan, karena tidak ada yang mampu memberikan manfaat dan menimpakan madharat kecuali Allah subhanahu wata'ala. Allah subhanahu wata'ala berfirman:

“ Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. dan jika Allah menghendaki kebaikan (manfaat) bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya tersebut. " (QS. Yunus: 107)

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Dan ketahuilah, seandainya umal manusia berkumpul untuk memberikan kemanfaatan bagimu dengan sesuatu niscaya mereka tidak dapat memberikan kemanfaatan bagimu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan sebaliknya, jika mereka semua berkumpul untuk memudharatkanmu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak dapat menimpakan kemudharatan tersebut kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. " (HR. At-Tirmidzi)

Perbuatan menganggap sial waktu-waktu tertentu. atau menganggap datangnya bencana dengan berdasarkan apa yang dia lihat. dia dengar. atau dia rasakan, maka ini dinamakan tathayyur atau thiyarah.

Thiyarah Adat Jahiliyyah

Secara bahasa (etimologi), thiyarah atau tathayyur merupakan bentuk mashdar dari kata / kalimat j^ (tathayyara). Dan asalnya diambil dari kata Iw^l (ath-thairu) yang berarti burung. karena musyrikin Arab Jahiliyyah dahulu melakukan thiyarah dengan menggunakan burung. yaitu dengan cara melepaskan seekor burung yang kemudian dilihat ke mana arah terbangnya burung tersebut. Kalau terbang ke arah kanan. berarti ini tanda kebcruntungan sehingga dia pun berangkat meneruskan pekerjaannya. Dan sebaliknya, kalau ternyata burung tersebut terbang ke arah kiri, maka ini tanda kesialan sehingga dia menghentikan atau membatalkan pekerjaannya tersebut.

Adapun secara istilah (terminologi) syari'at, thiyarah atau tathayyur adalah beranggapan sial atau merasa akan bernasib naas berdasarkan/discbabkan sesuatu yang dia lihat. dia dengar, atau waktu-waktu tertentu. Penggunaan istilah thiyarah atau tathayyur ini lebih meluas daripada sekedar beranggapan sial dengan menggunakan burung. Sehingga setiap orang yang beranggapan atau merasa bernasib sial dengan berdasarkan hal-hal tersebut.

maka dia telah terjatuh kepada perbuatan thiyarah walaupun tidak dengan menggunakan burung.

Berikut beberapa contoh perbuatan thiyarah berdasarkan sebabnya:

1.   Karena sesuatu yang dilihat

Seperti melihat kucing hitam, melihat burung hantu, melihat kecelakaan, melihat orang gila, dan yang lainnya kemudian dia beranggapan nanti akan mengalami nasib yang naas.

2.   Karena sesuatu yang didengar

Seperti mendengar suara burung gagak, lolongan anjing. suara tokek. atau ketika hendak berdagang, dia mendengar orang yang memanggilnya: 'Wahai Si Rugi', yang kemudian dengan sebab itu dia mengurungkan niatnya untuk berjualan.

3.   Karena waktu-waktu tertentu

Seperti menganggap sial hari-hari tertentu (Junrat Kliwon, Rabu Pon. dan lainnya), atau bulan-bulan tertentu (Muharram, Shafar, dan lainnya). atau tahun-tahun tertentu.

Dan termasuk thiyarah pula adalah menganggap sial angka-angka tertentu. seperti angka tiga belas. Dan ini seperti anggapan sial orang-orang sesat dari kalangan Syi'ah Rafidhah terhadap angka sepuluh. Mereka tidak suka dengan angka ini karena kebencian dan permusuhan mereka terhadap Al-'Asyrah Al-Mubasysyarina bil Jannah (sepuluh shahabat yang diberi kabar gembira masuk Al-Jannah). Yang demikian itu disebabkan kebodohan dan kedunguan akal mereka.

Demikian pula ahli nujum (ramalan bintang/zodiak atau yang semisalnya), mereka membagi waktu menjadi waktu naas dan sial. serta vvaktu bahagia dan baik. Tidaklah samar lagi bahwa ramalan bintang seperti ini adalah haram dan termasuk jenis syirik.

Pelaku thiyarah sesungguhnya telah bergantung/bersandar kepada sesuatu yang tidak ada hakekatnya, bahkan hal itu hanya merupakan sebuah dugaan dan khayalannya saja. Antara sesuatu yang dia berthiyarah kepadanya dengan kejadian yang menimpanya tidaklah memiliki hubungan apa-apa. Bagaimana bisa bulan Muharram, bulan Shafar. hari Rabu. Sabtu. mendengar burung hantu atau burung gagak. dan yang lainnya menjadi penentu nasib seseorang? Ha1 ini jelas dapat merusak aqidah dan tauhid seseorang yang rneyakininya. karena dapat memalingkan tavvakkal dia kepada selain Allah svvt.

Seseorang yang membatalkan rencananya untuk mengadakan hajatan, atau mengurungkan niatnya untuk bepergian karena thiyarah yang dia lakukan, berarti ia telah mengetuk pintu kesyirikan bahkan ia telah masuk ke dalamnya. Dia telah menghilangkan tawakkalnya kepada Allah subhanahu wata'ala dan membuka pintu bagi dirinya untuk takut kepada selain Allah subhanahu wata'ala dan bergantung kepada selain Ash-Shamad (Dzat Maha Tempat Bergantung). Sehingga pelaku thiyarah telah menyimpang dari apa yang Allah subhanahu wata'ala firmankan:

"Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman. " (Al-Ma 'idah: 23)

Karena itulah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah memperingatkan dan menegaskan kepada kita bahwa thiyarah termasuk kesyirikan sebagaimana dalam sabdanya:

"Thiyarah adalah  kesyirikan,   thiyarah adalah  kesyirikan."  (HR.  Ahmad dan Abu Dawud).

Obat dari Penyakit Ini

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa yang keperluannya lidak dilaksunakan disebabkan berbuat thiyarah. maka sungguh diu telah berbuut kesyirikan. Para shahabat bertanya: Bagaimana cara menghilangkun anggapan (thiyarah) seperli itu'.' Beliau hersabda: Hendaknya engkau mengucapkan (do 'a):

"}'a Allah, tidak ada kebaikan kecuali itu datang dari Engkau. tidak ada kejelekan kecuali itu adalah ketetapan dari Engkau, dan tidak ada yang berhak diibadahi dengan be nar se lain Engkau. " (HR. Ahmad dan At h-Thabarani).

Selain itu, thiyarah dapat dihilangkan dengan berusaha untuk tawakkal kepada Allah suhhanahu wata'ala saja. Bergantung hanya kepada-Nya dalam rangka meraih apa yang diinginkan dan menghindari dari sesuatu yang tidak diinginkan. serta mengiringi itu semua dengan usaha dan amal yang tidak menyelisihi syari'at.

Apapun yang menimpa kita baik berupa kesenangan, kelapangan, kesedihan, musibah, dan yang lainnya, kita meyakini bahwa itu semua merupakan kehendak Allah subhanahu wata'ala yang penuh dengan keadilan dan hikmah-Nya.

Adakah Barang-barang Penolak Bala ?

Setiap orang menginginkan keselamatan di dunia, maupun di akhirat. Oleh karena itu, masing-masing orang mencari sebab untuk mendatangkan keselamatan dan kebahagiaan bagi dirinya. Hanya saja tak semua orang mengetahui sebab yang baik dan diizinkan oleh Allah swt. Bahkan banyak diantara mereka sembarangan dalam mencari sebab, sehingga ada sebagian orang yang mengambil sesuatu yang bukan sebab keselamatan dan kebahagiaan baginya, bahkan menyebabkan mereka terjeremus kepada dosa kesyirikan.

Realita seperti ini banyak kita temukan di tengah masyarakat kita. Lihatlah sebagian orang menggunakan "batu bertuah", "keris sakti", "Sabuk Bertuah", "Permata Pelaris Dagangan", "Rompi Penarik Hati", "Kopiah Penolak Bala", "Permata Pelaris Bisnis", "Tanduk Kucing Penyebab Kekebalan", "Tanduk Babi", "Rotan Pembawa Rejeki", dan lainnya. Semua barang-barang ini diyakini oleh sebagian orang sebagian penyebab tertolaknya bala" (petaka), dan penyebab datangnya kebahagiaan berupa rejeki, kesehatan, jodoh, dan lainnya. Ini adalah keyakinan jahiliah yang telah dihapus oleh Allah dengan kedatangan Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- membawa Islam yang menghapus segala bentuk paganisme, dan penyembahan kepada selain Allah beserta sebab-sebabnya. Allah swt berfirman,

"Katakanlah: "Maka terangkanlah kepaduku tentang apa yang kamu seru selain Allah. Jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapal menghilangkan kemudharatan itu, at an jika Allah hendak member i rahmat kepaduku. apakah mereka dapal menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bugikn". Kepada-Nvalah hertawakkal orang-orung yang berserah diri".(QS. A:-Zumar : 38)

Dengan ayat tersebut di atas seorang ulama Syaikh Ibnu Sholih Al-Utsaimin berkata. "menjadikan hal-hal itu sebagai sebab, dianggap sebagai bentuk kesyirikian kepada Allah". [Lihat Al-Qoul Al-Mufid (1/168)]

Jadi, tali, bebatuan, permata, keris jika semuanya dijadikan sebagai sebab yang mendatangkan kebahagian dan penolak bala*. maka semua barang-barang itu bukanlah sebab-sebab yang dibenarkan oleh Islam. Bahkan itu merupakan kesyirikan kepada Allah: diharamkan untuk melakukannya. Benda-benda itu tidak dapat mendatangkan kebahagiaan atau menolak bala" inenurut pandangan syari'at. Jika ditinjau berdasarkan taqdir (ketentuan) Allah, maka benda-benda itu tidaklah menjadi sebab datangnya kebahagiaan dan tertolaknya bala".

Perhatikanlah. ketika orang-orang kafir ditanya. apakah sembahan-sembahan mereka dapat mendatangkan mudhorot (bala"). dan menghalangi rahmat dan kebaikan Allah, maka mereka mengakui bahua sembahan-sembahan mereka tak dapat melakukan hal itu!! Ini pcrnyataan dan penegasan orang-orang kafir. Bagaimana halnya di zaman ini ada sebagian orang "muslim", tapi mereka mengakui bahwa ada benda atau makhluk yang mampu mendatangkan rejeki atau menolak bala'. Padahal semua itu telah dilarang dan dingkari oleh Allah.

Ulama lainnya yaitu Syaikh Ibn Nashir As-Sa'diy -rahimahullah- berkata, "Wajib bagi seorang hamba untuk mengenal tiga perkara tentang "masalah sebab", Pertama, seorang hamba tidak menjadikan diantara sebab-sebab itu sebagai suatu SEBAB, kecuali yang telah nyata bahwa ia adalah sebab menurut syari'at dan taqdir (ketetapan Allah). Kedua, seorang hamba tidak bersandar kepada sebab-sebab itu, bahkan ia hanya bersandar kepada Yang Mengadakan dan Menetapkan sebab (yakni, Allah). Di samping itu, ia tetap melakukan sesuatu yang disyari'atkan diantara sebab-sebab itu, dan bersemangat terhadap sebab yang bermanfaat. Ketiga, seorang hamba mengetahui bahwa sebab-sebab itu bagaimana pun besar dan kuatnya, tapi sebab-sebab itu tergantung kepada ketentuan Allah, dan taqdir-Nya; tak akan keluar dari ketentuan-Nya". [Lihat Al-Qoul As-Sadid Syarh Kitab At-Tauhid (hal. 43-44)]

Jadi, barangsiapa menggunakan benda-benda yang dikeramatkan baik berupa batu, atau tali, dan lainnya dengan maksud untuk menghilangkan bala' setelah terjadinya, atau untuk menolak bala' sebelum terjadinya, maka sungguh ia telah berbuat syirik (mempersekutukan Allah dengan makhluk). Sebab jika ia meyakini bahwa benda-benda itulah yang menolak dan menghilangkan bala", maka ini adalah syirik akbar (besar), yaitu syirik dalam sifat rububiyyah, karena ia telah meyakini adanya sekutu bagi Allah dalam hal penciptaan dan pengaturan makhluk; juga syirik dalam uluhiyyah (peribadahan), sebab ia telah menghambakan diri kepada benda-benda itu, serta menggantungkan hatinya pada benda-benda itu karena mengharapkan manfaat dan kebaikannya.

Jika seorang hamba meyakini bahwa Allah-lah yang Memberi manfaat dan menolak bala'. tapi seseorang masih meyakni bahwa benda-benda yang dikeramatkan tersebut adalah sebab yang ia menolak bala" dengannya. maka sungguh ia telah menjadikan sesuatu yang bukanlah sebab yang disyari'atkan dan tidak pula ditaqdirkan oleh Allah sebagai suatu sebab. Ini adalah perbuatan yang diharamkan dan bentuk kedustaan atas nama syari'at dan taqdir. Menjadikan benda-benda yang dikeramatkan sebagai suatu sebab dalam menolak bala' atau mendatangkan rejeki dan kebahagiaan merupakan perkara yang diharamkan dalam agama kita. Oleh karenanya, Uqbah bin Amir -radhiyallahu anhu- berkata,

"Rasulullah saw pernah didatangi oleh oleh suatu rombongan. Beliau membai'at sembilan orang. dan enggan membai'at satu orang. Mereka pun berkata, "Wahai Rasulullah, engkau telah membai'at sembilan orang, dan rneninggalkan satu orang". Beliau bersabda. "Pada dirinya ada jimat". Kemudian beliau memasukkan tangannya dan memutuskan jimat itu. I.alu membai'atnya seraya berkata. "Barangsiapa yang menggantung jimat, maka sungguh ia telah berbuat syirik". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/156), Al-Hakim dalam AI-Mustadrok (4/219), dan Al-Uarits Ibn Abi Usamah dalam Musnad-nya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (492)]

Menjadikan jimat sebagai sebab dalam menolak bala' atau mendatangkan manfaat (kebahagiaan) merupakan perbuatan yang diharamkan dalam agama kita sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam hadits di atas.

Selain itu, jimat atau benda yang dikeramatkan lainnya, jika ditinjau berdasarkan taqdir (ketetapan Allah), maka ia bukanlah sebab yang menolak bala' dan mendatangkan manfaat berupa kesembuhan dan kebahagiaan, sebab menurut tajribah (pengalaman dan eksperimen), jimat tidaklah mendatangkan kesembuhan dan menolak marabahaya; jimat atau kens yang dikeramatkan hanyalah benda mati yang tidak bisa berbicara atau bergerak, apalagi mau menolong orang. Inilah yang dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya,

"Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari korma. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh yang Maha Mengetahui (Allah)".(OS. Faathir : 13-14)

Seorang muslim tidak boleh mengharap berkah, rahmat. dan manfaat dari makhluk . sebab makhluk-makhluk itu tak memiliki daya dan upaya. tidak bisa mendengar. dan tidak pula melihat. Kalaupun bisa. maka ia tak mampu memenuhi permintaan kita.

Hingga saat ini kita masih menyaksikan sebagian kaum muslimin yang masih mencari berkah dari hal-hal yang dilarang oleh islam seperti misalnya mengikuti Kiyai Slamet (seekor kerbau yang dikeramatkan di Solo). Mereka bergerombol dan berdesakan mengikuti kerbau ini demi ngalap (mencari) berkah darinya. Dan belum lama masyarakat kita dihebohkan dengan berduyun duyunnya manusia datang untuk "ngalap berkah" dari batu Ponari. Kejadian-kejadian tersebut adalah bukti masih lemahnya aqidah umat ini. Mudah-mudahan kita semua dilindungi oleh Allah s\vt dari berlaku yang menyalahi aqidah Islam yang benar.

Sebagai penutup mari kita renungkan firman Allah swt berikut :

"Ibrahim berkata: Maka niengapakah kalian menyembah selain Allah sesuatit yang tidak dapul memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kalian?" Ah (celakalah) kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah. Maka apakah kalian tidak memahami''" (OS. Al-Anbiyaa: 66-6)

*) Materi Kajian ini disampaikan dalam Pengajian Rutin Jamaah Haji Thayiba 2009 pada Hari Sabtu, 10 Desember 2011 di Wisma Thayiba, Jl. Pejaten Barat Raya No. 45E, Jakarta Selatan