Oleh : H. Farhat Umar, MSc

Ustadz Farhat Umar“Sempurnakanlah haji dan umrah untuk Allah…”(Q.S Al Baqarah : 196).

Penyempurnaan amal haji dan umrah merupakan tuntutan dari Allah SWT sebagaimana perintah-Nya dalam firman-Nya di atas. Pelaksanaan ibadah haji atau umrah yang sempurna dan benar adalah pelaksanaan amal haji atau umrah yang mengikuti tata cara Nabi SAW. Adapun dalam firman-Nya “…untuk Allah” dimaksudkan dengan niat penyempurnaan haji dan umrah diarahkan untuk Allah semata artinya ikhlas untuk Allah.

Amal seorang hamba akan dinilai oleh Allah sesuai dengan kualitasnya. Kualitas inilah yang disebut dalam Al Qur’an dengan “ahsanu amala” sebagaimana firman-Nya :

 

“…supaya Dia menguji kalian siapa diantara kalian yang lebih baik amalnya.” (Q.S Al Mulk : 2).

Imam Hanafi menerangkan ketika menafsirkan kata “Ahsanu amala” tersebut dalam ayat di atas dengan berkata : “amal yang ikhlas dan yang benar sesuai sunnah Rasulullah SAW”. Al-Fadl bin Iyad berkata : “Jika amal itu ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak diterima; jika amal itu benar, namun tidak ikhlas, maka ia tidak benar juga. Amal yang diterima adalah amal yang ikhlas dan benar”. Firman Allah SWT :

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholeh (benar sesuai dengan syariat Allah dan rasul-Nya) dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-Nya (ikhlas untuk Allah)”.(Q.S Al Kahfi : 110).

“Dan siapakah yang lebih agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan diapun mengerjakan kebaikan…”(Q.S An Nisaa’ : 125).

Ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah artinya mengikhlaskan maksud dan amal hanya untuk Allah. Sedangkan mengerjakan kebaikan artinya melaksanakan suatu amal sesuai dengan syariat dan mengikuti contoh Rasulullah SAW.

Seorang yang beramal tanpa keikhlasan, maka sia-sialah amalnya disisi Allah, sebagaimana firman-Nya :

“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang berterbangan” (Q.S Al Furqaan : 23).

“…seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan (amal) orang itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu licin itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah)…” (Q.S Al Baqarah : 264).

Demikian pula mereka yang tidak mendasari amalnya dengan tuntunan Rasulullah SAW, maka amal itupun tertolak, sebagaimana disabdakan :

“Barang siapa mengerjakan suatu amal yang tidak menurut perintah Kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ibadah akan diterima disisi Allah SWT bila dilandasi dua dasar :

1. Ikhlas kepada Allah SWT.

2. Mengikuti aturan syariah untuk amal ibadah yang akan dilakukannya.

Dari dua dasar tersebut, maka manusia dalam beribadah dapat dibagi menjadi 4 golongan:

1.      Orang-orang yang melakukan ibadah dengan ikhlas untuk Allah SWT dan mengikuti aturan syariah Allah dan rasul-Nya.

2.      Orang-orang yang tidak ikhlas dan tidak mengikuti aturan syariat.

3.      Orang-orang yang ikhlas dalam beramal, tetapi tidak benar dalam mengikuti syariat.

4.      Orang-orang yang benar dalam beramal sesuai dengan syariatnya, namun tidak ikhlas dalam melakukannya.

Dari 4 golongan tersebut hanya golongan pertama saja yang diterima ibadahnya, sedangkan golongan 2, 3 dan 4 semuanya tertolak dan tidak diterima di sisi Allah SWT.

Pengarahan Niat

Pada pembahasan di atas telah dibahas bahwa niat merupakan dasar penilaian apakah amal itu sah atau tidak sah sesuai dengan hadist Rasul SAW : “Sesungguhnya setiap  amal itu tergantung niatnya…”. Atau kaidah yang disepakati berbunyi “Amal itu beserta tujuan-tujuannya”.

Kalau niat itu menentukan bobot dari amal, maka selayaknya kita benar-benar memperhatikan niat yang mendasari suatu amal itu. Jangan sampai amal besar yang sedang kita kerjakan tidak bernilai apa-apa disisi Allah atau tidak meninggalkan pahala sedikitpun disisi-Nya, hanya karena rusaknya niat yang menyertainya. Sebagaimana yang dikemukakan Allah SWT dalam firman-Nya :

“…seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan (amal) orang itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu licin itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah)…” (Q.S Al Baqarah : 264).

Niat merupakan suatu dorongan yang menggerakkan amal ini banyak macamnya. Ada yang bersifat duniawi ada yang bersifat ukhrowi. Dorongan-dorongan tersebut muncul pada seseorang sesuai dengan kadar keyakinan yang dimilikinya. Dari berbagai dorongan tersebut ada yang diwajibkan, ada yang dilarang dan ada pula yang diperbolehkan. Bagi seorang mukmin tingkatan tertinggi yang harus ditempuh adalah menjadikan perasaan spiritualnya yaitu keinginan diridhoi oleh Allah sebagai dorongan penggerak amalnya itu.

“Katakanlah, Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb sekalian alam.

Tiada sekutu bagi-Nya dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah.” (Q.S Al An’am : 162 – 163).

Jika semua amal yang dia kerjakan benar-benar timbul atas niat mencari ridho Allah semata, maka jadilah dia sebagai mukmin yang mukhlis.

Tingkatan Niat

Sesungguhnya manusia mempunyai dorongan-dorongan yang berbeda ketika melakukan suatu amal. Ada yang digerakkan oleh dorongan dunia dan ada pula yang digerakkan oleh dorongan akhirat, serta ada pula yang digerakkan oleh keduanya. Allah SWT berfirman :

…“Diantara kalian ada orang yang menghendaki dunia dan ada diantara kalian orang yang menghendaki akhirat...” (Q.S Ali Imran 152).

“Barang siapa yang menghendaki manfaat dunia saja, maka ia merugi, karena di sisi Allah ada manfaat dunia akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Q.S An Nisaa’ 134).

Tingkatan Pertama dari penggerak amal adalah hendaknya seseorang menjadikan pencariannya terhadap ridho Allah sebagai pendorong satu-satunya bagi amal yang dikerjakannya. Itulah tingkatan yang utama bagi seorang mukmin.

Tingkatan Kedua adalah mereka yang menjadikan bersama ridho Allah itu pencampuran dengan tujuan lainnya yang bersifat duniawi selain daripada riya’ (ingin dipuji orang lain). Untuk tingkatan kedua ini, misalnya seseorang yang berpuasa dengan harapan ridho Allah dan harapan untuk kesehatan. Berwudhu untuk ridho Allah dan bercampur dengan keinginan menyegarkan badan. Banyak contoh lainnya yang sering dialami oleh seseorang dalam menetapkan niat untuk beramal. Amal dengan niat bercampur seperti ini tidak dilarang, akan tetapi akan mengurangi bobot pahala akhirat yang dihasilkannya. Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya apabila orang-orang yang berperang itu memperoleh harta rampasan, maka mereka mendapatkan terlebih dahulu dua pertiga balasannya (di dunia), dan jika tidak memperoleh (harta rampasannya) apa-apa, maka balasan bagi mereka menjadi utuh (di akhirat).” (HR. Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud dan Nasa’i).

Dalam firman-Nya berkaitan dengan pelaksanaan haji, Allah menjelaskan hukum mereka yang berhaji sekaligus berniaga dengan firman-Nya :

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia Tuhan-Mu (hasil perniagaan), maka apabila kamu telah bertolak dari Arafat, berzikirlah kepada Allah di Masyaril Haram. Dan berzikirlah dengan menyebut nama Allah sebagaimana yang ditunjukan-Nya kepadamu…” (Q.S Al Baqarah 198).

Tingkatan Ketiga adalah niat untuk mencari ridho Allah yng bercampur dengan keinginan dipuji orang (riya’). Tingkatan ketiga ini adalah terlarang, karena ia menghilangkan pahala sama sekali. Rasulullah SAW ditanya oleh seorang sahabat :

“Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang seseorang yang berjihad karena mencari pahala (ridho Allah) sekaligus ketenaran dari manusia?”. Rasulullah SAW menjawab : “dia tidak memperoleh apapun.” Kemudian beliau melanjutkan : “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali amal itu ikhlas karena-Nya atau untuk mencari keridhoan-Nya.”(HR An Nasa’i).

“Allah SWT tidak menerima suatu amal jika di dalamnya ada riya’ sekalipun seberat biji sawi.” (HR Abu Nu’im).

Tingkatan Keempat adalah niat yang tidak ada di dalamnya harapan mencari ridho Allah atau memperoleh pahala, akan tetapi semata-mata kemanfaatan dunia selain dari riya’, maka tidak ada yang ia peroleh bagian pahala dari Allah, akan tetapi bila amalannya itu sesuai dengan sebab-akibat sunatullah yang Dia (Allah) telah tetapkan, maka ia akan mungkin memperoleh manfaat dunianya itu saja. Allah SWT berfirman :

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia (saja) dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia ini tidak akan dirugikan.

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat apa yang telah mereka kerjakan di dunia dan sia-sia apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S Hud 15 – 16).

Tingkatan yang paling akhir dari niat adalah riya’ semata-mata, yaitu amal yang semata-mata didorong oleh keinginan untuk dipuji oleh orang lain atau untuk orang lain. Tingkatan niat semacam ini adalah haram mutlak dan tergolong perbuatan orang-orang kafir dan munafik. Allah SWT berfirman :

“Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi orang dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.”(Q.S Al Anfal 47).

“Wahai semua manusia, jauhilah syirik yang tersembunyi”. Mereka bertanya, ‘wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu ? Beliau menjawab : “Seseorang berdiri lalu sholat dan menghiasi sholatnya dengan agar pandangan manusia tertuju kepadanya. Yang demikian itulah syirik yang tersembunyi.” (HR. Ibnu Khuzaimah).

Demikian arti pentingnya penetapan niat dan memurnikan niat ketika beramal. Karena bobot amal itu ditentukan oleh niatnya. Semoga kita senantiasa menetapkan niat yang ikhlas dalam setiap amal yang kita kerjakan dan menyesuaikan amal kita dengan syariat yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Amin ya Robbal ‘alamin.