Oleh : Ir. H. Farhat Umar, MSc.

Ustadz Farhat UmarIslam merupakan jalan hidup yang khas yang berbeda dari jalan-jalan hidup yang lain. Islam mewajibkan para pemeluknya agar hidup dengan warna tertentu yang tetap tidak berubah yang di dalam Al Qur’an Allah SWT menyebutnya dengan shibgoh Allah (Q.S 2 : 138). Islam juga mewajibkan atasnya agar kita mengikatkan diri dengan jalan yang khas tersebut dengan bentuk keterikatan yang akan menjadikan mereka tidak tenang pikirannya dan tidak tentram perasaannya kecuali berada pada jalan hidup tertentu tersebut. Bahkan manusia tidak akan merasakan kebahagiaan yang hakiki, kecuali berada di dalamnya.

 

Allah SWT berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya apabila Allah dan Rasul menyeru kamu untuk memperoleh suatu kehidupan” (Q.S 8 : 42).

Ibnu Katsir menafsirkan kata “lima yuhyikum” dengan makna kesejahteraan, kebahagiaan, kemakmuran dan kemenangan. Makna tersebut diperjelas dengan janji Allah kepada mereka (umat) yang memenuhi panggilan-Nya tersebut seperti tercantum pada Q.S 24 : 55.

Islam oleh Allah disebut sebagai Ad-Diin, yang didalam maknanya adalah cara hidup (way of life). Ad-Diin bukan bermakna “agama menurut kamus Purwadarminta” yang hanya diartikan sebagi kumpulan keyakinan dan ajaran tentang peribadatan spiritual dan ajaran tentang budi pekerti. Ad-Diin sesungguhnya merupakan tata hidup yang mengatur seluruh tindak kehidupan manusia di muka bumi ini.

Islam dari segi penamaannya berbeda dari agama-agama lain. Agama masehi diambil dari nama seorang yang dinisbatkan sebagai Tuhannya, yaitu Isa Al-Masih AS, Budha diambil dari nama pendirinya Budha Gautama, Hindu diambil dari nama daerah dimana ia pertama kali muncul dan tersebar yaitu Hindia atau Hindustan. Demikian pula Yahudi diambil dari nama suku pemeluknya yaitu Yahuza. Sedangkan Islam tidak ada kaitannya dengan nama orang tertentu, tidak pula suku tertentu, tidak pula bangsa tertentu, juga bukan nama daerah tertentu. Islam dinamai Islam karena sifat tertentu yang dikandung oleh makna kata Islam itu sendiri. Oleh karena itu setiap orang yang memiliki sifat tersebut, sejak jaman dahulu kala sampai sekarang ia disebut Muslim. (Q.S 6 : 162-163; 2 : 131-133; 40 : 66; 30 : 11-14)

Makna Islam bersesuaian dengan sifat alam semesta.

Sudah kita maklumi bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini tunduk kepada suatu aturan tertentu dan pada undang-undang tertentu. Contoh: matahri terbit dari sebelah timur dan terbenam di sebelah barat, bumi berputar mengitari matahari dan berputar pada porosnya. Benda-benda langit lainnya beredar pada orbitnya masing-masing yang tetap dan tunduk pada ketetapan itu. Demikian pula pada diri manusia, mata berkedip tunduk pada aturan tertentu, denyutan jantung dan proses pernafasan, pencernaan dan lain-lain. Semuanya tunduk pada aturan-aturan tertentu. Mereka tidak pernah membangkang terhadap apa yang ditetapkan Penciptanya Allah SWT. Dari segi ini maka Islam merupaka Diin alam semesta, karena semua yang ada di alam initelah tunduk dan patuh bergerak sesuai dengan perintah dan undang-undang Allah SWT sebagai penciptanya. (Q.S 13 : 15; 61 : 1).

Pada diri manusia ternyata ada dua hal yang berlainan :

1. Segi fisiknya, maka ia tidak bisa menghindar dari aturan Allah. Sifatnya sama dengan alam yang lain. Dari segi ini ia telah muslim sejak dilahirkan dan akan tetap muslim hingga akhir hayatnya.

2. Segi yang lain, manusia dikaruniai akal untuk memahami dan menentukan pilihan-pilihan dalam kehidupan ini. Juga dilengkapi dengan perasaan hati yang berkemampuan untuk menyukai dan membenci sesuatu. Manusia pada sisi ini diberi kebebasan pilihan yang bertanggung jawab. Pilihan yang bertanggung jawab ini merupakan amanah dari Allah SWT yang diminta oleh manusia sendiri (Q.S 33 : 72).

Dari segi kedua tersebut, maka manusia terbagi dalam 2 garis besar :

1.  Manusia yang mengenal Tuhannya dan aturan-aturan-Nya serta bersedia tunduk patuh, menyerahkan dirinya kepada aturan-aturan tersebut. Keadaannya sama dengan alam semesta dari segi fisiknya, maka mereka dinamakan muslim (lihat kembali Q.S 13 : 15).

2.  Manusia yang kufur kepada Allah dan aturan-aturan-Nya. Mereka bejalan tidak sesuai dan senantiasa membangkang dari aturan-aturan Allah SWT. Sehingga pada dasarnya mereka tidak sejalan dengan alam semesta dan fisiknya yang senantiasa tunduk kepada Allh SWT sebagai Penciptanya.

Demikianlah ad-diin Islam dinamai Islam karena sifat mereka yang memeluk Ad-Diin ini benar-benar tunduk dan patuh serta menyerah pada aturan-aturan yang ditetapkan oleh Allah SWT sebagai pencipta Yang Maha Agung. Q.S 3 : 19 dan Q.S 3 : 85.

Kekhasan Ad-Diin Islam berbeda dengan agama dan ad-diin lainnya, baik berkenaan dengan pandangannya terhadap akhirat, maupun pandangannya terhadap kehidupan dunia. Beberapa pandangan khas Islam terhadap dunia dan tugas manusia dalam kehidupan dunia:

  1. Dunia dan isinya ini adalah ciptaan Allah SWT (Q.S 6 :1).
  2. Sebagaimana sifat makhluk (ciptaan), maka dunia beserta isinya termasuk didalamn6ya umat manusia diciptakan dan diberi amah sebagai khalifah di muka bumi (Q.S 2 : 30; 33 : 72)
  3. Manusia diciptakan dan diberikan amanah sebagai khlaifah di muka bumi (Q.S 2 : 30; 33 : 72)
  4. Semua yang diciptakan Allah di muka bumi ini diperuntukkan oleh Allah sebagai sarana manusia menjalankan amanah Allah tersebut di atas (Q.S 2 : 29)
  5. Amanah khilafah bumi pada dasarnya memelihara kebaikan di muka bumi dan tidak berbuat kerusakan di dalamnya (Q.S 2 : 11; 2 : 76; 28 : 77; 67 : 2; 7 : 35-36)
  6. Jalan untuk membuat kebaikan dan jalan kerusakan telah ditunjukkan oleh Allah sebagai karunia Allah SWT kepada umat manusia (wahadaina najdaini).
  7. Yang berhasil membuat kebaikan dengan mengikuti petunjuk tersebut maka ia mendapatkan keselamatan dunia akhirat, yang gagal akan mendapatkan kebinasaan dunia akhirat (Q.S 2 : 38-39; 2 : 25; 40 : 40; 13 : 18).