Ustadz Farhat UmarBerikut  ini adalah Materi lengkap pengajian bulanan Jamaah Haji 2009 Thayiba Tora yang berlangsung Sabtu, 13 Februari 2010di Wisma Thayiba, Jl. Pejaten Barat Raya No. 45E, Jakarta Selatan. Materi pengajian disampaikan oleh Ustadz  Ir. Farhat Umar yang juga sebagai Pembimbing Ibadah Jamaah Haji Khusus & Umrah Thayiba Tora.

 

Cita-cita tertinggi seorang muslim, ialah agar dirinya dicintai Allah, menjadi orang bertakwa yang dapat diperoleh dengan menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak manusia. diantara tanda-tanda seseorang dicintai Allah, yaitu jika dirinya dicintai oleh orang-orang shalih, diterima oleh hati mereka. Rasulullah Shalallahu 'alaihi was sallam bersabda.  "Sesungguhnya Allah jika mencintai seorang hamba, la memanggil Jibril, "Sesung-guhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah ia. "Lalu Jibril mencintainya dan menyeru kepada pendndnk langit, "Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah ia. "Maka (penduduk langit) mencintainya, kemudian menjadi orang yang diterima di muka bumi. " [Hadils Bukhari dan Mmlim,dalam Shahih Jami 'ush Shaghir no.283]

Diantara sifat-sifat muslim yang dicintai oleh orang-orang shalih di muka bumi ini, diantaranya adalah ia berakhlak kepada manusia dengan akhlak yang baik, banyak memberi manfaat, melakukan hal-hal yang disukai manusia dan menghindari dari sikap-sikap yang tidak disukai manusia, sehingga ia dikenal manusia dengan kebaikan-kebaikannya. Dalam sebuah hadist disebutkan:

"Suatu ketika Rasulullah saw melihat orang-orang sedang mengusung jenazah, lalu beliau berlanya :" siapakah dia (yang meninggal tersebut) ?. Shabal menjawab : " Dia adalah fulan. Dia orang baik (bertaqwa) dan sangat banyak kebaikan-kebaikannya. Maka Rasul saw bersabda :" Jikalau ada 40 orang yang menyalakan hal yang sama seperti yang kalian nyatakan, niscaya dia akan masuk surga ". (HR. Muslim)

Berbuat baik dengan sesame, merupakan salah satu pilar yang harus ditegakkan oleh setiap muslim. Dalam al-qur'an maupun hadist Nabi saw banyak sekali perintah untuk berbuat baik kepada sesame, seperti finnan Allah swt:

"Artinya : Pergauilah mereka (isten) dengan baik". [An-Nisaa : 7/ "Artinya : Allah mencintai orang-orang yang berbual baik". /Ali-Imran : 134 /

"...berbuat baiklah kalian (kepada orang lam) sebagaitnana Allah lelah berbuat baik kepadamu". (al Qoshos: 77)

Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda :

"Artinya : Bertakwalah engkau dimanapun engkau berada, Sertailah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan ilu akan menghapus keburukan.Dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik" (HR.Tirmidzi, ia berkata :Hadits hasan)

"Artinya : Seutama-utama amal Shalih, ialah agar engkau memasukkan kegembiraan kepada saudaramu yang heriman" (HR.Ibn Abi Dunya dan dihasankan olah Syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami 'ush Shaghir I096)

"Sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak manfaatnya kepada orang lain " (al Hadisl)

"Ketika ada salah seorang sahabal meminla izin kepada Nabi saw untuk dapat tinggal beribadah sendiri di pegunungan di luar kola Madinah, maka beliau menjawab: "Sungguh satu hari bergaul di tengah manusia lebih baik bagimu daripada kalian beribadah seperti itu selama 70 tahun ". (al Hadist)

Pentingnya Akhlak dalam Bergaul

Adab bergaul dengan manusia merupakan bagian dari akhlakul karimah (akhlak yang mulia). akhlak yang mulia itu sendiri merupakan bagian dari dienul Islam. Bahkan Nabi Muhammad saw diutus untuk menyempurnakan akhlak. Beliau saw adalah seorang manusia yang berakhlak mulia. Allah swt berfirman :

"Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas akhlak yang agung".(Al-Qalam 4)

Dan kita diperintahkan untuk mengikuti beliau dan menjadikannya sebagai teladan dalam hidup. Allah telah menyatakan dalam firman-Nya :

" Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu contoh leladan yang baik "  (Al-Ah:ab 211)

Dengan mempraktekkan akhlak dalam bergaul, maka kita akan memperoleh mantaat, yaitu berupa persaudaraan yang kuat, ukhuwah yang kokoh, yang dilandasi iman dan keikhlasan kepada Allah. Allah swt berfirman :

"Dan berpegang teguhlah kalian pada tali (agama) Allah bersama-sama, dan janganlah kalian bercerai-berai, Dan ingatlah nikmat Allah yang telah Allah berikan kepada kalian, kelika kalian dahulu bermwuh-musuhan, lalu Allah lunakkan hati-hati kalian sehingga dengan mkmat-Nya, kalian menjadi bersaudara, padahal tadinya kalian berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian daripadanya. Demikianlah Allah menjelaskan kepada kalian ayal-ayatnya, agar kalian mendapat petunjuk"  (Al-lmran : 103 )

Oleh karena itu, akhlak bergaul ini sangat perlu dipelajari untuk kita amalkan. kita harus mengetahui, bagaimana adab terhadap orang tua, adab terhadap saudara kita, adab terhadap istri kita, adab seorang istri terhadap suaminya, adab terhadap kawan sekerja atau terhadap atasan dan bawahan.

Motivasi Dalam Bergaul

Faktor yang mendorong seorang muslim dalam bergaul dengan orang lain ialah semata-mata mencari ridha Al]ah. Ketika seorang muslim tersenyum kepada saudaranya, maka itu semata-mata niencari ridha Allah, karena tersenyum merupakan perbuatan baik yang diperintahkan olehNya. Demikian juga ketika seorang muslim membantu kawannya atau ketika mendengarkan kesulitan-kesulitan kawannya, tidak berkata-kata yang menyakitkan kepada orang lain, maka perbuatan-perbuatan itu semata-mata untuk mencari ridha Allah, Demikianlah seharusnya. Tidak sebaliknya, yaitu, bertujua

ridha Allah. Misalnya : bermuka manis kepada orang lain, berbicara lemah-lembut, semua itu dilakukan karena keperitingan dunia. atau ketika berurusan dalam perdagangan, sikapnya ditunjukkan hanya semata-mata untuk kemaslahatan dunia. tingkah laku seperti ini yang membedakan antara orang beriman yang ikhlas dan yang tidak beriman.

Bisa saja seorang muslim bermuamalah dengan sesamanya karena tujuan dunia semata. Seseorang bersedia akrab, menjalin persahabatan disebabkan adanya keuntungan yang didapatnya dari orang lain. Manakala keuntungan itu tidak didapatkan lagi, maka ia berubah rnenjadi tidak bersedia kenal dan akrab lagi. Atau seseorang senang ketika orang lain memberi sesuatu kepadanya, akan tetapi ketika sudah tidak diberi, kemudian berubah menjadi benci. Hal seperti itu tidak selayaknya terjadi pada diri seorang muslim.

Contoh lainnya, seorang karyawan sangat menghormati dan perhatian kepada atasannya di tempat kerja. tetapi apabila atasannya itu sudah pensiun atau sudah tidak menjabat lagi, karyawan ini tidak pernah memikirkan dan memperhatikannya lagi.

Seorang ulama Ibn Taimiyah rahimahullah memberi penjelasan terhadap finnan Allah swt dalam surat Az-Zukhruf 67, yang artinya: "teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang bertakwa". Beliau berkata : "orang-orang bertakwa, persahabatan mereka akan langgeng sampai di alam akhirat, karena didasari lillah dan fillah. yaitu cinta karena Allah dan di jalan Allah. Sebaliknya, bagi orang-orang yang tidak bertakwa, di akhirat nanti mereka akan menjadi musuh satu sama lain. Persahabatan mereka hanya berdasarkan kepentingan dunia. Diantara motto mereka ialah: "Tidak ada teman yang abadi, tidak ada musuh yang abadi, yang ada hanya kepentingan yang abadi".

Rasulullah saw bersabda :

"Seorang laki-laki Iwndak mengunjungi temannya karena Allah, maka Allah mengutus malaikat kepadanya. Malaikat itu bertanya (pada hatinya) : "hendak kemana engkau pergi ?" Hati laki-laki itu menjawab : "Aku berkunjung ke tempat fulan". Malaikat bertanya :"apakah ada keperluanmu padanya ?" lelaki itu menjawab :"tidak". Malaikat pun bertanya :"apa karena ia berjasa padamu ?". lelaki itu menjawab :"tidak". Malaikat itu bertanya : "karena apa engkau pergi ? ". Laki-laki itu menjawab : "Aku bersahabat karena Allah ". Malaikat itu berkata : "Sesimgguhnya Allah telah mengutus aku kepadamu, bahwa Allah mencintaimu karena kecintaanmu kepadanya dan Allah telah mengharuskan surga untukmu". (H.R. Muslim)

Diantara Akhlak Yang Disukai Manusia

[a]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberi Perhatian Kepada Orang Lain.

Diantara bentuk perhatian kepada orang lain, ialah mengucapkan salam, menanyakan kabarnya, menengoknya ketika sakit, memberi hadiah dan sebagainya. Manusia itu membutuhkan perhatian orang lain. Maka, selama tidak melewati batas-batas syari, hendaknya kita menampakkan perhatian kepada orang lain, karena demikianlah kita

diperintah oleh Allah dan RasulNya. Rasulullah saw bersabda :" Barangsiapa yang tidak peduli kepada urusan umat, maka ia bukanlah golongan mereka " (HR. Muslim)

[b]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Mau Mendengar Ucapan Mereka.

Hendaknya seorang muslim bersikap slap dan sabar mendengarkan ucapan orang lain, itulah akhlak Rasul saw. Seorang bapak -misalnya - ketika pulang ke rumah dan bertemu anaknya, walaupun masih terasa lelah, harus mencoba menyediakan waktu untuk mendengar cerita atau keluhan anaknya.

Contoh lain, yaitu ketika orang lain berbicara dan salah dalam bicaranya tsb, maka seharusnya kita tidak memotongnya secara langsung, apalagi membantahnya dengan kasar. kita dengarkan pembicaraannya hingga selesai, baru kemudian kita jelaskan kesalahannya dengan baik.

[c].    Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberikan Penghargaan Dan Penghormatan Kepada Orang Lain.

Nabi mengatakan, bahwa orang yang lebih muda harus menghormati orang yang lebih tua, dan yang lebih tua harus menyayangi yang lebih muda. Bentuk-bentuk sikap tidak menghormati dan tidak menghargai, harus kita kenali dan kita hindarkan. Misalnya, ketika berjabat tangan tanpa melihat wajah yang diajaknya berjabat tangan.

[d].   Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberi Kesempatan Kepada Orang Lain Untuk Maju.

Sebagai seorang muslim, seharusnya senang jika saudara kita maju, berhasil atau mendapatkan kenikmatan, walaupun hawa nafsu manusia itu tidak suka jika ada orang lain yang melebihi dirinya. Hawa nafsu seperti ini harus kita kekang dan kikis sedikit demi sedikit. Orang yang dengki, tidak suka jika kawannya lebih berhasil dari dirinya. Bahkan karena dengkinya itu ia berusaha menghalangi kawannya untuk maju dan mendapatkan kenikmatan.

[e].    Manusia Suka Kepada Orang Yang Tahu Berterima Kasih Atau Suka Membalas Kebaikan.

Hal ini bukan berarti dibolehkan mengharapkan ucapan terima kasih atau balasan dari manusia jika kita berbuat kebaikan terhadap mereka. Akan tetapi hendaklah tidak segan-segan untuk mengucapkan terima kasih dan membalas kebaikan yang diberikan orang lain kepada kita.

[fj. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memperbaiki Kesalahan Orang Lain Tanpa Melukai Perasaannya. *

Kita perlu melatih diri untuk menyampaikan ungkapan kata-kata yang tidak menyakiti perasaan orang lain dan tetap sampai kepada tujuan yang diinginkan. Rasulullah saw pernah

mengingatkan Istri beliau Aisyah ra. yang lupa tidak memberikan gula pada air susu yang dihidangkan kepadanya dengan ucapan :"wahai istriku, alangkah senangnya hatiku bila kita bisa minum berdua susu ini, dan engkaulah yang memulainya." Ketika Aisyah merasakannya, maka tersadarlah ia tentang kekhilafannya tidak member! gula pada scgelas susu itu, dan ia pun meminta maaf kepada Rasul saw.

Ucapan seperti itu merupakan sindiran halus, agar tidak melukai perasaan orang, tanpa kehilangan maksud untuk memperbaikinya.

[g]. Manusia suka kepada kelemahlembutan dalam bergaul

Allah swt berfirman :

"Maka dengan Rahmat Allah lah kamu (Muhammad) bersikap lembut kepada rnereka.

Seandainya kamu her sikap kasar lagi keras, maka mereka akan lari dari kamu.. "(al Imron156)

Sikap-sikap Yang Tidak Disukai Manusia

Sebaliknya sebagai muslim diperintah untuk menghindarkan diri dari berbuat hal yang tidak disukai manusia. Maksud dari sikap yang tidak disukai manusia, ialah sikap yang menyelisihi syariat. Adapun berkaitan dengan sikap-sikap yang tidak disukai manusia, tetapi Allah ridho, maka harus kita utamakan keridhoan Allah swt daripada menghindari ketidaksukaan manusia. Dan sebaliknya, terhadap sikap-sikap yang dibenci oleh Allah, maka harus lebih diutamakan daripada mendatangkan kesukaan manusia.

Adapun perbuatan-perbuatan yang tidak disukai manusia diantaranya ialah :

a). Memberi Nasehat Kepadanya Di Hadapan Orang Lain dan secara langsung.

Al Imam Asy Syafii berkata dalam syairnya yangberbunyi:

Sengajalah engkau memberi nasehat kepadaku ketika aku sendirian

Jauhkanlah memberi nasehat kepadaku dihadapan orang banyak

Karena sesungguhnya nasehat yang dilakukan dihadapan manusia

Adalah salah satu bentuk rnenjelek-jelekkannya

Aku tidak ridho mendengarnya    -

Apabila engkau menyelisihiku dan tidak mengikuti ucapanku

Maka janganlah jengkel apabila nasehatmu tidak ditaati

b). Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Selalu Memojokkannya Dengan Kesalahan-Kesalahannya.

Manusia adalah makhluk yang banyak memtliki kekurangan pada dirinya, maka tidak layak bagi seorang muslim untuk memojokkan orang lain dengan kesalahan-kesalahannya, apalagi disebutnya berulang-ulang pada waktu yang berbeda, kecuali kesalahan yang besar dan disebutkan sebagai bentuk pelajaran bagi orang lain.

Rasulullah saw bersabda yang artinya,   "janganlah seorang mukmin membenci istrinya,

karena jika dia lidak suka dengan satu akhlaknya yang buruk, dia akan suka dengan

akhlaqnya yang baik ".

Hadist tersebut memperkuat firman Allah swt:

"Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka,

maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahai Allah menjadikan

padanya kebaikan yang banyak". (an-Nisa': 19)

c). Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Sombong.

Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak akan masuk surga, barang siapa yang di dalam hatinya ada si fat sombong, walau sedikit saja........ " sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.

d). Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Menisbatkan Kebaikan Kepada Dirinya Dan Menisbatkan Kejelekan Kepada Orang Lain.

Dalam kitab Ighasatul Lahfan, Al Imam Ibn Qayyim menjelaskan, bahwa manusia diberi naluri untuk mencintai dirinya sendiri. Sehingga apabila terjadi perselisihan dengan orang lain, maka akan menganggap dirinya yang berada di pihak yang benar, tidak punya kesaiahan sama sekali. sedangkan lawannya, berada di pihak yang salah. Dia merasa dirinya yang didhalimi dan lawannyalah yang berbuat dhalim kepadanya. Tetapi, jika dia memperhatikan secara mendalam, kenyataannya tidaklah demikian. Oleh karena itu, kita harus terus introspeksi diri dan hati-hati dalam berbuat. Agar bisa menilai apakah langkah kita sudah benar. Wallahu a'lam. (Farhat Umar)