Oleh : Ustadz Farhat Umar, MSc

“…Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah taqwa. Dan bertaqwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal”. QS Al Baqarah : 197

Ayat di atas merupakan perintah dari Allah SWT atas hamba-hamba-Nya yang akan melakukan suatu perjalanan, khususnya perjalanan ibadah haji agar menyiapkan bekal yang cukup, terkait dengan bekal materi, khususnya ayat perintah “watazawwadu” = berbekallah. Akan tetapi sesungguhnya bekal materi tidak akan pernah cukup kecuali bila dicukupkan oleh Allah SWT. Oleh karenanya Allah SWT pada ayat penjelasan berikutnya menyatakan “Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah bekal taqwa”., bekal yang akan mencukupkan kebutuhan kita dalam perjalanan. Karena Allah SWT menjamin bagi orang-orang yang bertaqwa dengan jaminan antara lain :

 

Selanjutnya...

Ikhlas Niatnya, Benar Caranya

Oleh : Tim Pembimbing Ibadah Haji Thayiba Tora

“Sempurnakanlah haji dan umrah untuk Allah…”(Q.S Al Baqarah : 196).

Penyempurnaan amal haji dan umrah merupakan tuntutan dari Allah SWT sebagaimana perintah-Nya dalam firman-Nya di atas. Pelaksanaan ibadah haji atau umrah yang sempurna dan benar adalah pelaksanaan amal haji atau umrah yang mengikuti tata cara Nabi SAW. Adapun dalam firman-Nya “…untuk Allah” dimaksudkan dengan niat penyempurnaan haji dan umrah diarahkan untuk Allah semata artinya ikhlas untuk Allah.

Amal seorang hamba akan dinilai oleh Allah sesuai dengan kualitasnya. Kualitas inilah yang disebut dalam Al Qur’an dengan “ahsanu amala” sebagaimana firman-Nya :

Selanjutnya...

Oleh : Tim Pembimbing Ibadah Haji Thayiba Tora

“Sempurnakanlah haji dan umrah untuk Allah…” (Q.S Al Baqarah : 196).

Penyempurnaan amal haji dan umrah merupakan tuntutan dari Allah SWT sebagaimana perintah dalam firman-Nya di atas. Pelaksanaan ibadah haji atau umrah yang sempurna adalah pelaksanaan amal haji atau umrah yang mengikuti tata cara Nabi SAW. Adapun tata cara haji yang telah diteladankan oleh Nabi SAW tersebut terbagi dalam 3 bentuk amal yaitu amal rukun, amal wajib dan amal sunnah.

Selanjutnya...

Kajian Fiqih Praktis :
Ibadah Yang Menyertai Perjalanan Haji

Oleh: H. Erizal Ilyas, MA

Yang dimaksud dalam bahasan ini adalah amalan-amalan yang mesti dilakukan seseorang dalam perjalanan haji dan secara langsung tidak termasuk bagian dari amalan wajib atau sunnah haji. Diantara amalan tersebut adalah:

1. Bersuci / Attaharah

Bersuci terbagi kepada dua bagian:

A. Dari hadas-hadas besar.

Hadas-hadas besar seperti junub dan haid, caranya adalah dengan mandi wajib. Seseorang yang sedang berada di tanah suci tidak ada larangannya baginya (suami-istri) untuk melakukan hubungan, dan bagi wanita yang haid tidak boleh baginya melakukan semua amalan–amalan haji dan ibadah

Selanjutnya...

_