Oleh : Ustadz Farhat Umar, MSc

“…Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah taqwa. Dan bertaqwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal”. QS Al Baqarah : 197

Ayat di atas merupakan perintah dari Allah SWT atas hamba-hamba-Nya yang akan melakukan suatu perjalanan, khususnya perjalanan ibadah haji agar menyiapkan bekal yang cukup, terkait dengan bekal materi, khususnya ayat perintah “watazawwadu” = berbekallah. Akan tetapi sesungguhnya bekal materi tidak akan pernah cukup kecuali bila dicukupkan oleh Allah SWT. Oleh karenanya Allah SWT pada ayat penjelasan berikutnya menyatakan “Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah bekal taqwa”., bekal yang akan mencukupkan kebutuhan kita dalam perjalanan. Karena Allah SWT menjamin bagi orang-orang yang bertaqwa dengan jaminan antara lain :

 

“…Barang siapa bertaqwa kepada Allah SWT, maka Allah SWT akan menjadikan baginya jalan keluar (bagi segala problemnya); dan Dia (Allah) akan memberikan rizki kepadanya dari arah yang yang tidak disangka-sangka. …Barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Dia (Allah) akan mencukupkan keperluannya...” Q. S Ath Thalaq : 2 – 3.

 

“…Barang siapa bertaqwa kepada Allah, maka Allah SWT akan menjadikan baginya kemudahan atas segala urusannya.” Q. S Ath Thalaq : 4.

“…Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang taqwa.” Q. S Al Baqarah : 194.

“…Dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertaqwa.” Q. S Al Jatsiyyah : 19.

“…Barang siapa bertaqwa dan berbuat kebaikan tidak ada ketakukan terhadap mereka dan tidak pula mereka berduka cita.” Q.S Al A’araf : 35.

Asbabun nuzul ayat tersebut di atas (yakni suart Al Baqarah : 197) sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya :

Dari Ibnu Abbas RA, “Ada beberapa orang pergi haji dengan tidak membawa perbekalan seraya berucap : “Kami akan menunaikan haji ke Baitullah, apakah mungkin Allah tidak memberi makan kami?” “Maka Allah SWT menurunkan ayat tersebut, yang tafsirnya adalah : “Berbekalah kalian dengan sesuatu yang dapat menjaga kehormatan kalian dari manusia.”.

Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa ketika penduduk Yaman menunaikan ibadah haji, tetapi mereka tidak membawa bekal, dan mereka berujar : “Kami adalah orang-orang yang bertawakkal”. Maka Allah menurunkan ayatnya “Berbekallah”, yakni perintah Allah SWT agar mereka berbekal materi untuk kebutuhan dalam perjalanannya, Allah SWT tidak ridho kepada mereka yang berangkat tanpa bekal.

Selanjutnya Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa”, yang tafsirnya adalah : “Apabila kalian telah berusaha menyiapkan bekal sesuai perkiraan kebutuhanmu dalam perjalanan, maka cukupkanlah bekal kalian itu dengan ketaqwaan kepada-Nya yang Maha Pencipta, Maha memberi rizqi kepada hamba-Nya, Dialah yang mencukupkan hamba-Nya dengan segala kebutuhannya, Dialah yang menjadikan kesulitan menjadi kemudahan. Dialah yang yang menjadikan jalan keluar dari setiap masalah. Dengan kalian bertqwa kepada-Nya dan bertawakkal kepada-Nya dengan tawakkal yang benar, niscaya Allah SWT akan senantiasa menolong kalian, memberi jalan keluar bagi kesulitan kalian dalam perjalanan dan Allah SWT akan mencukupkan kekurangan yang mungkin akan kalian jumpai dalam perjuangan”.

Dengan demikian dalam perintah Allah SWT kepada kita untuk melakukan ibadah haji, sesungguhnya terkandung pula perintah untuk melakukan persiapan bekal yang akan kita bawa dalam perjalanan ibadah haji tersebut. Jenis bekal yang sangat penting untuk dipersiapkan menghadapi perjalanan panjang ibadah haji dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Bekal niat dan tekad.

Wajib bagi mereka yang akan melaksanakan haji untuk menetapkan niat dan tekad melaksanakan ibadah haji tanpa keraguan. Setiap orang yang akan menunaikan ibadah haji hendaknya meniatkan semata-mata karena Allah SWT, untuk mendekatkan diri dan mencari kerihoaan-Nya. Ia semaksimal mungkin menghindarkan diri dari tujuan-tujuan duniawi, riya atau sum’ah. Dan hendaknya pula ia bertekad bahwa dengan telah didaftarkannya ia untuk menunaikan ibadah haji, maka ia harus membulatkan tekad, tanpa ragu-ragu bahwa dirinya akan berangkat haji.

Rasulullah bersabda : “Barang siapa hendak melaksanakan haji, hendaklah segera ia melaksanakannya, karena terkadang seseorang itu sakit di waktu lainnya, hilang kendaraan yang menjadi miliknya, dan adanya suatu hajat yang menghalanginya.” H.R Ibnu Majah.

“Bersegeralah melaksanakan haji (apabila kalian telah merasa kemampuan), karena sesungguhnya salah seorang diantara kalian tidak mengetahui apa yang akan merintanginya (di tahun-tahun mendatang bila ia menundanya).” H. R Ahmad.

“…Apabila kalian telah membulatkan tekad, maka selanjutnya bertawakkallah kepada Allah SWT.” Q. S Ali Imran : 159.

2. Bekal materi.

Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkan kepada siapa saja yang akan berhaji untuk menyiapkan bekal materi yang mereka bakal butuhkan dalam perjalanan. Mereka diperintahkan untuk menyiapkan kendaraannya, bekal makanan, pakaian yang ia butuhkan, dan pondokan tempat ia bermalam dan sebagainya yang kesemuanya terkait dengan material yamg diperlukan dalam ibadah hajinya. Tujuan mempersiapkan bekal ini tiada lain agar ia tidak terlantar, tidak meminta-minta yang kesemuanya itu dimaksudkan agar menjaga kehormatan dirinya dalam perjalanan hajinya.

Penyiapan bekal materi ini selain merupakan kewajiban, sekaligus dipandang sebagai amal nafkah yang besar pahalanya di sisi Allah SWT., sesuai dengan apa yang disampaikan Nabi SAW dalam sabdanya : “Perbelanjaan yang dikeluarkan oleh seseorang untuk memenuhi kebutuhannya waktu haji seperti perbelanjaan yang dikeluarkan dalam jihad, pahalanya tujuh ratus kali lipat.” H. R Ahmad, Thabrani dan Baihaqi.

Sebagaimana diketahui untuk perbekalan perang atau jihad fi sabilillah Allah SWT telah pula memerintahkan agar dilakukan persiapan yang bersifat materi, sebagaimana firman-Nya :

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…” Q. S Al Anfal : 60.

Maka berkaitan dengan perjalanan haji kitapun diperintah untuk menyiapkan segala sesuatu yang bersifat materi sebagi bekal kita selama haji sesuai dengan apa yang kita sanggupi.

Dalam suatu atsar, Umar bin Khatab RA berkata : “Salah satu tanda kemurahan seseorang adalah ia menyediakan bekal untuk perjalanan dirinya dari nilai yang terbaik yang ia sanggupi.” Ucapan Umar RA yang lainnya : “Haji yang terbaik adalah haji dari seseorang yang niatnya ikhlas, perbekalannya yang terbaik, dan keyakianannya kepada Allah yang paling kuat”. Nabi SAW bersabda : “Tidak akan menjadi miskin sedikitpun orang yang menunaikan haji.” H.R Thabrani dan Al Bazzar.

Hadist Nabi tersebut di atas sebagai penjelasan firman Allah SWT ketika memerintahkan ibadah haji sebagaimana firman-Nya :

“…Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia karena Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke sana. Dan barang siapa yang ingkar terhadap kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam.” Q. S Ali Imron : 97.

Ayat tersebut ditafsirkan bahwa kewajiban haji memang membutuhkan biaya dan Allah SWT Maha Tahu tentang hal itu, oleh karenanya kewajiban ini hanya Allah bebankan kepada mereka yang memiliki kemampuan. Dan selanjutnya Allah SWT menjaminkan sesungguhnya Allah Maha Kaya, yakni apa kalian belanjakan itu sesungguhnya berasal dari Allahlah yang kan memberikannya kepadamu kembali.

3. Bekal ilmu.

Sesuai dengan perintah Allah SWT dalam firman-Nya : “Sempurnakan haji dan umrah karena Allah...”. Penyempurnaan pelaksanaan ibadah haji dan umrah tiada lain adalah dengan cara mengikuti apa yang ditunjukkan oleh Nabi SAW, sesuai dengan sabdanya : “Ambillah dari aku tata cara ibadah haji kalian”. Untuk memenuhi perintah ini maka kita semua harus memiliki bekal ilmunya, yang dikenal dengan manasik haji. Tata cara ini telah Allah tunjukkan kepada hamba-Nya atas doa Nabi Ibrahim dan Ismail sebagaimana difirmankan :

”…tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami...” Q. S Al Baqarah : 128.

Imam bin Abdul Aziz berkata : “Barang siapa beramal tanpa ilmu, maka yang rusak lebih banyak daripada yang benar.” Oleh karenanya untuk menjaga agar kita dapat menjalankan ibadah haji dengan benar, diwajibkan bagi kita untuk membekali dengan ilmu, khususnya tentang tata cara ibadah haji yang akan kita lakukan.

4. Bekal kawan yang baik dalam perjalanan.

Sesungguhnya perjalanan haji adalah perjalanan panjang dean sekaligus perjalanan jamaah. Banyak masalah yang mungkin terjadi, dari hal-hal yang ringan hingga yang berat sekalipun. Dalam perjalanan seperti ini menjadi sangat penting arti sebuah perkawanan, oleh karenanya kawan yang baik sangat kita butuhkan.

Untuk mendapatkan kawan yang baik dalam perjalanan, maka hendaknya kita siap menjadikan diri kita sebagai kawan yang baik bagi orang lain, niscaya orang lain akan menjadi kawan baik kita.

5. Taqwa, Bekal Terbaik Perjalanan Haji

Bekal taqwa adalah sebaik-baik bekal, karena ia akan menjadi bekal yang akan mencukupkan selama perjalanan. Sesungguhnya perjalanan atau safar merupakan ujian dan kesulitan, oleh karenanya Allah SWT memberikan keringanan baginya dalam sholat dengan anjuran qashar dan jama’, keringanan berbuka (tidak berpuasa), tiada lain karena musafir adalah kesulitan. Beberapa nilai-nilai taqwa yang harus menjadi pegangan adalah (1) ketawakkalan, (2) kerendahhatian, (3) kesabaran, dan (4) pengorbanan. Disamping nilai-nilai ketaqwaan lainnya yang banyak disampaikan dalam penjelasan Al Qur’anul Karim. (Periksa Q.S Al Baqarah 1 – 5; Q. S Ali Imran : 134 – 136; Q. S Al Furqaan : 63 – 70, dan sebagainya).

Semoga dengan bekal yang kita persiapkan dengan baik, haji kita menjadi haji yang terbaik. Amin ya Robbal ‘alamiin.