Kajian Fiqih Praktis :
Ibadah Yang Menyertai Perjalanan Haji

Oleh: H. Erizal Ilyas, MA

Yang dimaksud dalam bahasan ini adalah amalan-amalan yang mesti dilakukan seseorang dalam perjalanan haji dan secara langsung tidak termasuk bagian dari amalan wajib atau sunnah haji. Diantara amalan tersebut adalah:

1. Bersuci / Attaharah

Bersuci terbagi kepada dua bagian:

A. Dari hadas-hadas besar.

Hadas-hadas besar seperti junub dan haid, caranya adalah dengan mandi wajib. Seseorang yang sedang berada di tanah suci tidak ada larangannya baginya (suami-istri) untuk melakukan hubungan, dan bagi wanita yang haid tidak boleh baginya melakukan semua amalan–amalan haji dan ibadah

lainnya sampai dia betul–betul bersih terkecuali: berpakaian ihram dari miqat, baginya hukum seperti orang-orang yang sedang dalam keadaan suci yaitu mandi, berpakaian ihram, dan berniat dari miqat tanpa melakukan sholat sunat ihram. Apabila niat dimiqat untuk umrah maka tidak boleh baginya melakukan tawaf dan sai sampai dia suci. Selama dalam keadaan tidak suci (haid) diwajib selalu berpakaian ihram, apabila telah bersih lalu mandi wajib dan baru berangkat ke Masjidil Haram mengerjakan umrah. Dan apabila berniat dari miqat untuk berhaji baginya boleh melakukan amalan-amalan haji kecuali tawaf dan sai. Bagi ibu-ibu yang masa datang  bulannya berdekatan dengan tanggal-tanggal mengerjakan haji/umrah dianjurkan untuk berkonsultasi dengan tim medis kita sebelum berangkat ketanah suci.

 

B. Dari hadas-hadas kecil.

Ada dua cara bersuci dari hadas kecil yaitu berwudhu dan bertayamum.Untuk mengangkat hadas kecil cara pertama adalah dengan cara berwudhu dan apabila tidak ada air baru boleh diganti dengan bertayamum atau karena sebab-sebab yang syar’i. Firman Allah SWT : “Hai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak mengerjakan sholat maka hendaklah kamu membasuh mukamu, dua tanganmu sampai kesiku, usaplah kepalamu dan basuhlah kedua kakimu sampai kedua mata kaki... jika kamu tidak menemukan air maka bertayamummlah dengan tanah yang bersih”  (Q.S Surat Al Maidah ayat 6).

Sabda Rasullullah SAW: “Allah tidak menerima sholat seseorang yang berhadas sampai dia berwudhu”. (Hadist Riwayat Bukhari - Muslim)

Pada musim-musim haji Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sangat padat sekali, sangat mungkin saat kita berada dalam mesjid wudhu kita batal, dalam hal ini wajib bagi kita menjaga kebersihan mesjid dengan tidak berudhu menggunakan beberapa gelas air di tengah-tengah mesjid karena alasan tidak dapat tempat bila berwudhu keluar. Perlu kita ketahui di dalam Masjidil Haram terdapat beberapa tempat untuk berwudhu dan tidak untuk beristinja’, bila perlu ke kamar kecil di sekeliling mesjid terdapat WC yang bagus berlantai tiga. Bila pergi berwudhu keluar mesjid jangan tinggalkan sajadah anda ditempat boleh jadi selesai berwudhu anda tidak bisa masuk lagi karena mesjid sudah penuh.

2. Tayamum

Yaitu menyengaja menyampaikan/mengusap tanah kemuka dan dua tangan sebagai ganti dari berwudhu atau mandi dengan sarat-syarat tertentu (Imam Syafi’i). Para ulama (Imam Malik, Hanafi, Syafi’i dan Ahmad) sepakat bahwa tayamum boleh sebagai ganti dari berwudhu dan mandi karena sebab-sebab tertentu dengan syarat menggunakan tanah. (QS. An-Nisa : 43, Al Maidah : 6).

Tayamum dilakukan karena tidak ada air, luka atau sakit bila memakai air akan bertambah sakitnya, cuaca sangat dingin sekali, takut kehilangan sesuatu (harta/jiwa) bila pergi mencari air atau takut habis waktu sholat bila harus pergi mencari air, atau air ada tapi diperlukan untuk minum.

Cara bertayamum:

  1. Berniat dan membaca basmallah sebelum memulai tayamum.
  2. Letakkan/ sentuhkan kedua telapak tangan ke arah tanah yang suci debunya  (2 kali). Satu kali untuk muka dan satu kali untuk tangan.
  3. Tepukkan telapak tangan tersebut lalu meniupnya.
  4. Mengusap wajah dengan kedua telapak tangan secara merata.
  5. Letakkan tangan satu kali lagi diatas tanah, lalu tepukkan untuk diusapkan kekedua tangan sampai siku.
  6. Mengusap tangan mulai dari bagian belakang dengan sekali usap.

Bolehkan bertayamum dipesawat?

Boleh bertayamum dipesawat apabila dikawatirkan terjadi sesuatu yang berbahaya dengan banyaknya yang memakai air, dengan persyaratan tetap menggunakan tanah yang berdebu bukan kesandaran kursi tempat duduk karena disana tidak ada debu. Sebaiknya jemaah tetap berwudhu, dengan menggunakan air sehemat mungkin tidak seperti lazimnya berwudhu di luar pesawat, disamping air yang tersedia di pesawat terbatas, atau membawa sedikit tanah untuk bertayamum. Wallahua’alam bishshawab.

3. Sholat  Berjamaah.

Sholat berjamaah menurut para fuqaaha adalah sunat muaqqadah bahkan Imam Ahmad berpendapat hukumnya wajib. Rasulullah SAW pernah berniat ingin membakar rumah orang-orang yang tidak pergi sholat berjamaah ke mesjid. Dengan sholat berjamaah akan terbentuk ukhuwah Islamiyah diantara umat Islam apa lagi  saat kita sedang berada ditanah suci kita akan bertemu dengan berbagai macam suku bangsa dengan agama yang satu yaitu Islam. Sabda Rasullullah: Sholat berjamah lebih utama dari sholat sendirian 27 kali lipat.

4. Sholat Jama’ dan Qashsar

Bagi orang yang sedang berpergian berupa perjalanan jauh seperti haji/umrah Allah SWT memberikan rukhsah (keringanan) untuk menjama’, meng-qashar atau men-jama’ dan meng-qashar sekaligus.

Pengertian jama’

Mengumpulkan dua sholat dalam satu waktu dan mengerjakannya secara berturut-turut. Sholat yang boleh dijama’ adalah sholat Zuhur dengan Ashar dan sholat Maghrib dengan Isya. Apabila sholat – sholat tersebut dikerjakan pada waktu yang awal (Zuhur/Maghrib) maka disebut jama’ taqdim, dan apabila dikerjakan pada waktu yang akhir (Ashar/Isya) disebut jama’ takhir.

Pengertian Qashsar.

Qashsar secara bahasa berarti pendek/memendekkan, yang dimaksud dengan syar’i adalah mengurangi bilangan rakaat sholat dari empat rakaat menjadi dua rakaat. Artinya sholat yang boleh diqashsar adalah sholat-sholat yang bilangan rakaatnya empat seperti Zuhur, Ashar dan Isya.

Pengertian Jama’–Qashsar adalah melaksanakan sholat dengan cara menyatukan kedua rukhsah tersebut diatas dengan satu adzan dan dua kali Qomat. Waktu mengerjakannya boleh secara jama’ taqdim Qashsar atau jama’ takkhir Qashsar.

Dalil disyariatkannya jama’ dan Qashar adalah hadist Nabi SAW : dari Ibnu Umar beliau berkata: Saya mendampingi Rasullullah Saw dalam perjalanan dia tidak melebihi sholatnya dari dua  rakaat. Begitu juga Abu Bakar, Umar dan Usman. (Hadist Riwayat Bukahri – Muslim).

Kapankah kita menjama’ dan mengqashar dalam perjalanan haji?

Selama dalam perjalanan menunaikan ibadah haji kita boleh melakukan jama’qashar kecuali setelah kita sampai di Madinah atau Makkah kita akan tetap melakukan sholat tiap waktu bersama imam di mesjid Nabawi / Masjidil Haram.

5. Sholat diatas Kendaraan

Bagi orang-orang yang sedang berada diatas kendaraan, sedangkan dia harusmelakukan sholat Allah memberikan keringanan padanya dengan tetap melakukan sholat sesuai dengan kemampuannya.

  • Posisi berdiri

Apabila mampu melaksanakan shalat dengan berdiri, maka berdirilah, kemudian laksanakan shalat sebagaimana biasa. Tetapi apabila tidak bisa dengan berdiri maka shalatlah dengan duduk.

  • Shalat duduk

Apabila telah berwudhu atau bertayamum duduklah di tempat yang memungkinkan lalu berniatlah untuk mengerjakan shalat. Tata cara pelaksanaan shalat sama seperti shalat dengan berdiri, hanya saja semuanya dikerjakan dengan cara duduk kecuali ruku’ dan sujud dilaksanakan dengan cara membungkukkan sedikit kepala atau badan. Sedangkan sujud dilaksanakan dengan cara membungkukan badan/kepala lebih banyak dari dari ketika ruku’.

  • Menghadap kiblat

Usahakan shalat agar menghadap kiblat, walaupun hanya awalnnya saja akan tetapi jika tidak memungkinkan lalukanlah dengan niat menghadap kiblat.

Kata Imam Syaukani: Wajib bagi orang yang sholat di atas kapal laut (kendaraan) dalam keadaan berdiri kecuali dia takut terjatuh maka boleh baginya sholat dalam keadaan duduk. (Nailul autar 2/226).

6. Sujud Tilawah

Yaitu sujud yang disebabkan kita membaca / mendengarkan ayat-ayat sajadah. Di Masjidil Haram maupun di Masjidil Nabawi, apabila melaksanakan shalat subuh pada hari Jum’at, Imam seringkali membaca surat As-Sajadah. Pada rakaat pertama sesampai ayat 15 imam akan  sujud tilawah dan kemudian akan berdiri kembali untuk menyempurnakan bacaaan. Hukum sujud tilawah adalah sunat dan apabila Imam tidak sujud maka makmum tidak perlu sujud.

Doa sujud tilawah:

Sajjadah wajhiya lilladzi khalaqahu wa syaqqa sam’ ahu wa bashawrahu bihawlihi wa quwwatihi fatabarakallahu ahsanal khaliqin.

Artinya: Bersujud wajahku kepada Allah zat yang menciptakannya, membukakan pendengarannya serta penglihatannya denga daya dan kekuatan–Nya. Mahasuci Allah sebaik-baikzat yang menciptakan.

7. Sujud Sahwi

Sujud Sahwi berarti sujud karena lupa dilakukan sebelum salam dengan dua kali sujud.

Hal–hal yang menyebabkan dilakukannya sujud sahwi:

  1. Salam sebelum cukup bilangan rakaat sholat.
  2. Apabila kelebihan rakaat sholat.
  3. Lupa melakukan tasyahud awal.
  4. Ragu pada bilangan rakaat, misal tiga atau empat rakaat. Dalam hal ini harus diambil bilangan yang terkecil.

8. Sholat Sunat Rawatib

Sholat sunat rawatib dapat dibagi dalam dua bagiaan:

Sholat sunat rawatib muakkad: artinya Rasulullah SAW tidak pernah   meningalkannya setiap kali beliau habis sholat fardhu atau sebelumnya dan sangat dianjurkan untuk mengerjakannya.

  • 2 rakaat sebelum sholat subuh.
  • 2 rakaat sebelum dan sesudah sholat zuhur.
  • 2 rakaat sesuah sholat magrib.
  • 2 rakaat sesudah sholat isya.

Sholat sunat rawatib gairu muakad: yaitu sholat sunat rawatib yang derajatnya dibawah muakad karena Rasullullah tidak selalu mengerjakannya.

  • 2 rakaat (tambahan) sebelum dan sesudah sholat zuhur.
  • 2 / 4 sebelum sholat ashar.
  • 2 rakaat sebelum sholat maghrib.
  • 2 rakaat sebelum sholat isya.

9. Sholat Sunat Witir

Sholat sunat witir berarti sholat sunat penutup, hukumnya adalah muakkad karena Rasulullah Saw menyuruh para sahabat untuk mengerjakannya dan beliau sendiri tidak pernah meninggalkannya. Bilangan rakaatnya paling sedikit satu rakaat dan paling banyak 13 rakaat dan yang paling banyak dilakukan adalah 3 rakaat caranya :

  1. Boleh 2 kali salam: setelah 2 rakaat salam dan ditambah 1 rakaat lagi.
  2. 1 kali salam dan 1  kali tasyahud yaitu pada rakaat terakhir.

10. Sholat Jenazah

Keutamaan sholat jenazah seperti Sabda Rasullullah SAW yang artinya: “Barang siapa yang mengiringi jenazah dan ikut menyembahyangkannya, ia akan memperoleh pahala sebesar satu Qirath dan siapa yang mengikutinya sampai dikuburkan dia akan memperoleh dua Qirath. Yang terkecil beratnya seperti gunung Uhud.”

Rukun Sholat Jenazah :

  1. Niat
  2. Berdiri bagi yang mampu
  3. Takbir 4 kali
  4. Seterusnya membaca alfatiah dan selawat
  5. Berdoa

Cara melaksanakan sholat jenazah:

  1. Berniat. Diniatkan dalam hati melaksanakan sholat jenazah ikhlas karena Allah ta’ala.
  2. Takbir atullihram (takbir pertama) membaca Al Fatihah
  3. Takbir kedua dengan  membaca salawat pada nabi.
  4. Takbir ketiga lalu membaca doa:

Allahumaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fuanhu wa akrim nuzulahuwa washshi’ madkhalahu waqsilhu bil ma-I watstsalji wal baradi. Wanaqqihi minal khataya kama naqqaita atstsauabal abyadi    minaddanasi. Wa abdilhu daawan kharian min daarihi wa ahlan kahiran min ahlihi wa zaujatan khairan min zaujihi wa adkhilhu aljannata wa aizhu min azaabil qobri wa azaabin naar.

5. Takbir keempat lalu membaca doa:

Allahuma laa tahrimna ajrahu walaa taftinnaa ba’ dahu waghfirlanaa walahu.

6. Salam

Untuk mengetahui apakah jenazah yang disholatkan satu orang atau lebih, lelaki atau perempuan bisa diketahui dari pemberitahuan muadzin.

Ini pemberitahuan di Mesjid Nabawi :

1. Untuk satu orang laki-laki/perempuan.

2. Untuk dua orang laki-laki/perempuan

3. Untuk banyak orang.

Adapun di Masjidil Haram :

1. Untuk satu orang laki-laki / perempuan.

2. Untuk dua orang laki-laki/perempuan.

Kalau ada anak-anak yang disholatkan maka ditambah dengan kalimat “attifli”.

Wallahu ‘alam