Oleh : Ir. H. Farhat Umar, MSc.

Ustadz Farhat UmarRumah tangga merupakan suatu lembaga yang terbentuk dari sebuah perikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan melahirkan kebahagiaan yang kekal berdasarkan niat memenuhi perintah Allah swt. Tujuan pembentukan rumah tangga adalah menciptakan kebahagiaan yang abadi.  Rumah tangga yang bahagia merupakan surga bagi pasangan perkawinan. Walaupun tujuan perkawinan adalah menciptakan rumah tangga yang bahagia, akan tetapi tidak setiap perkawinan mampu melahirkan rumah tangga yang bahagia.

Banyak perkawinan yang mampu menjadikan rumah tangganya sebagai surga, tetapi adapula menjadi sebaliknya yaitu menjadi neraka bagi kehidupan sesorang. Rumah tangga yang melahirkan kebahagiaan dan keharmonisan bagi anggota-anggotanya benar-benar merupakan karunia besar dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala untuk hamba-Nya di dunia ini.  Maka benarlah ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “ Rumah tanggaku adalah surgaku.” Memang demikianlah yang seharusnya menjadi dambaan kita semua sesuai dengan tujuan Allah Subhaanahu wa Ta’ala menetapkan syariat perkawinan yaitu hidup berdampingan dalam pertalian keluarga yang bahagia dan sejahtera, tentram dan penuh kasih sayang. (QS. Ar-Ruum : 21)

Untuk membangun suatu rumah tangga sesuai dengan yang didambakan tersebut tidaklah mudah. Hal ini disebabkan karena perkawinan yang mendasari berdirinya rumah tangga merupakan pertalian dua insan laki-laki dan perempuan yang berbeda; berbeda latar belakang, berbeda pengalaman hidup, berbeda persepsinya, berbeda sikap dan prilakunya, berbeda kesukaan dan ketidaksukaannya. Adalah sangat kecil kemungkinan menemukan pasangan perkawinan laki-laki dan perempuan yang tidak memiliki perbedaan.

Adanya perbedaan antara pasangan merupakan suatu potensi timbulnya kesalah-pahaman bahkan konflik antara pasangan. Oleh karena itu dalam mengarungi kehidupan rumah tangga sangat diperlukan suatu upaya yang dapat meredam dan menghindari munculnya potensi tersebut, bahkan bila mungkin dapat mengelola potensi perbedaan tersebut untuk mendapatkan hasil positip bagi kehidupan rumah tangga. Untuk itu dalam pengelolaan rumah tangga tidaklah cukup sekedar saling menyadari adanya perbedaan, melainkan diperlukan pula pemahaman yang sama tentang hak dan kewajiban dan pengamalannya. Pemahaman yang sama akan hak dan kewajiban tidaklah mudah untuk diamalkan kecuali bila kedua pasangan saling berkorban untuk lainnya, dan pengorbanan diantara pasangan sulit direalisasikan kecuali bila kemesraan antara keduanya senantiasa terjaga.

Untuk menghasilkan rumah tangga yang bahagia sangat diperlukan upaya sebagai berikut : (1) masing-masing memahami fungsi pokok dan dasar rumah tanggas, (2) saling memahami hak dan kewajiban suami istri; (3) pencukupan ekonomi keluarga; (4) saling menjaga kemesraan suami istri; dan (5) berhubungan seksual yang sehat.

1. Memahami fungsi pokok dan dasar rumah tangga

Fungsi pokok rumah tangga menurut pandangan Islam adalah sebagai (1) melahirkan kebahagiaan (seks, materi, mental), (2) melahirkan keturunan, dan   (3) pendidikan dan pewarisan nilai-nilai. Hal ini dapat dipahami dari firman Allah swt :

“  Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar ia merasa senang  kepadanya. Maka setelah dicampurinya istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah ia merasa ringan. Kemudian tatkala ia merasa berat, keduanya (suami-istri) bermohon kepada Allah, seraya berkata: sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sholeh, tentulah kami termasuk orang yang bersyukur”. (Al-Araf : 189)

Adapun berkaitan dengan dasar atau fondasi dari rumah tangga para ulama menyebutnya sebagai (1) ibadah, (2) mengandung amanah, dan (3) kebersamaan.

2. Memahami hak dan kewajiban suami istri

Suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi dasar dari susunan masyarakat. Kedudukan suami dalam rumah tangga sebagai kepala keluarga, sedangkan istri sebagai ibu rumah tangga. Hak dan kewajiban istri seimbang dengan hak dan kewajiban suami dalam kehidupan rumah tangga. Masing-masing pihak berhak dalam melakukan perbuatan hukum, artinya istri atau suami dalam melakukan perbuatan hukum tidak perlu bantuan suami atau istri. Sekalipun demikian, untuk menghindari kesalahpahaman sebaiknya ada persetujuan di antara suami istri.  Sebagai kepala rumah tangga suami berhak mengambil keputusan dalam pengaturan rumah tangganya dengan mengedepankan musyawarah dengan istrinya dan anggota keluarga lainnya.

Sebagian besar kewajiban suami istri merupakan kewajiban timbal balik, artinya mereka wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati, saling setia, saling memberi dan menerima, saling menjaga kehormatan. Suami istri sama-sama memikul kewajiban mengasuh dan memelihara anak-anak mereka, baik pertumbuhan jasmani, rohani maupun kecerdasan dan pendidikan agamanya.

Adapun kewajiban suami yang menjadi hak istri adalah mengarahkan rumah tangganya, membimbing serta melindungi istrinya. Suami memberikan segala keperluan hidup keluarganya sesuai dengan kemampuannya.

Sedangkan kewajiban istri yang menjadi hak suami adalah berbakti lahir batin kepada suami di dalam batas-batas yang dibenarkan oleh hukum Islam. Istri berkewajiban menyelenggarakan dan mengatur keperluan rumah tangga sehari-hari. Menjadi pendamping utama dalam mengarungi bahtera kehidupan.

Sebagai orang tua, suami istri berkewajiban terhadap anak-anaknya, yaitu memelihara dan mendidik anak sebaik-baiknya. Istri berkewajiban menyusukan anaknya untuk paling lama 2 tahun dan dapat dilakukan penyapihan dalam masa kurang dari dua tahun dengan persetujuan suami istri. Semua biaya penyusuan anak dipertanggung-jawabkan kepada ayahnya.

Kewajiban suami istri secara bersama-sama menjaga ikatan dan hubungan kekerabatan antara dua keluarga besar, oleh karena itu hak suami istri terhadap pasangannya untuk mendapatkan hormat, bantuan dan pergaulan yang baik kepada kedua orang tua dan saudara-saudaranya.

3. Ekonomi keluarga

Kestabilan rumah tangga banyak pula dipengaruhi oleh pengurusan perokonomian rumah tangga.  Perokonomian rumah tangga berdiri di atas dasar sikap pertengahan, yakni tidak berlebihan dan tidak pula kikir. Perekonomian keluarga harus pula berdiri di atas usaha dan pencarian nafkah yang baik dan halal sesuai dengan agama dan aspek etika bagi anggota keluarga. Adapun beban pencarian nafkah keluarga ini diwajibkan oleh Islam kepada pundak suami. Adapun istri atas izin suaminya diperkenankan mendapatkan tambahan nafkah keluarganya. Istri dan anak-anaknya berhak mendapatkan nafkah dari suaminya sesuai dengan ma’rufnya, yakni dianggap dapat mencukupi secara adat kebiasaan dan tidak berlebihan.

4. Saling menjaga kemesraan suami istri

Kebahagiaan rumah tangga dapat lebih mudah diwujudkan apabila hubungan suami istri diliputi dengan kemesraan. Oleh karena itu saling menjaga kemesraan pasangan suami-istri harus dilakukan agar di antara keduanya terbangun hubungan mesra dan kasih sayang.  Hubungan mesra dan kasih sayang tidaklah sekedar muncul pada waktu tertentu saja, melainkan dapat diusahakan pada sepanjang waktu kehidupan pasangan.  Pemeliharaan kemesraan ini bukan dengan satu atau dua perbuatan, melainkan dilakukan dengan perantaraan banyak perbuatan dan berulang, selain daripada berhubungan seksual yang sehat.

Beberapa tip yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam memelihara kemesaraan suami-istri adalah :

  • Saling menjaga kebersihan diri untuk pasangannya
  • Saling memandang dengan penuh kasih sayang
  • Mengucapkan perkataan “sayang” dan memanggil dengan sebutan yang disukai
  • Memberikan pujian atas prilaku baik dan prestasi yang dilakukan pasangan
  • Saling menutupi kekurangan pasangan dan bersabar dengan adanya kekurangannya
  • Bersendagurau
  • Hubungan intim
  • Menyediakan waktu khusus
  • Rekreasi bersama
  • Saling memberi hadiah
  • Sholat berjamaah

5. Hubungan seks yang sehat

Islam memandang hubungan khusus suami-istri merupakan salah satu perbuatan yang dinilai ibadah, karena menyalurkan suatu yang bersifat fitrah dengan cara yang diperintahkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

“Pada kemaluan setiap orang di antara kamu itu ada sedekahnya.” Para sahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah, apakah seseorang di antara kami menyalurkan syahwatnya mendapat pahala ?” Beliau menjawab : “ Benar, bukankah apabila dia menyalurkannya pada yang tidak dihalalkan, maka ia mendapat dosa. Apakah kamu hanya memperhitungkan keburukan dan tidak memperhitungkan kebaikan?” (H.R. Muslim)

“ Dan manakala salah seorang kamu bersetubuh, sesungguhnya itu merupakan amal yang akan diberi pahala.” (H.R. Muslim)

Adapun untuk mendapatkan hubungan khusus suami istri yang sehat, Islam telah memberikan adab berhubungan tyersebut di antaranya :

  • Tidak melakukan  hubungan secara paksa
  • Masing-masing pasangan hendaknya saling memperhatikan hak seksual pasangannya
  • Menyembunyikan prilaku masing-masing pasangan
  • Larangan persenggamahan pada saat istri sedang haid (mentstruasi).

(Materi Kajian ini disampaikan pada Pengajian Rutin Alumni Jamaah Haji Thayiba 2010 pada Minggu, 01 Maret 2012 di Wisma Thayiba Pejaten).