Link Situs

Kementerian Agama RI

Web Haji Kementerian Agama RI

Kementerian Haji Saudi Arabia

Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan RI

Minggu, 8 Maret 2020 | 22:45 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Semua pihak sedang menunggu Pemerintahan Arab Saudi membuka kembali akses masuknya wisatawan ke negaranya khususnya untuk tujuan umrah. Sekjen Kesatuan Tour Trevel Haji Umroh Republik Indonesia (Kesthuri) Artha Hanif mengatakan, sejauh ini jemaah umrah dalam naungan Kesthuri, lebih dari 90 persen bersedia untuk melakukan reschedule atau penjadwalan ulang perjalanan umrah mereka daripada melakukan refund (pengembalian uang).

 

Oleh karena itu, pihaknya berharap, visa umrah yang sudah didapatkan para jemaah saat ini dapat diberlakukan melalui skema diperpanjang atau dikeluarkan terbitkan visa baru tanpa biaya.

“Kami berharap situasi itu ke depannya. Ini lebih baik sehingga segera jelas kapan jadwal ulang bagi setiap jemaah umrah yang siap berangkat dan sudah mendapat visa,” kata Artha kepada Beritasatu.com, Minggu (8/3/2020) petang.

Artha menuturkan, jemaah yang tidak siap untuk berangkat kembali menjadwal ulang dengan alasan apapun maka ada jaminan dari Pemerintahan Arab Saudi bahwa biaya yang dibayarkan untuk mendapatkan visa akan bisa dikembalikan.

Akan tetapi, jemaah harus mengetahui bahwa prosesnya tidak cepat. Pasalnya, Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) harus melewati berbagai mekanisme yang hingga saat ini belum diketahui pihak PPIU.

“Nah mekanisme teknis yang sampai sekarang kita belum mendapatkan gambaran seperti apa. Karena proses ini melibatkan suatu proses verifikasi yang mungkin sedikit agak ribet karena melibatkan beberapa kementerian di Saudi Arabia baik Kementerian Haji maupun Kementerian Luar Negeri terkait visa ini,”ucap Artha.

Artha menyebutkan, dalam proses menerbitkan visa, tentu butuh persetujuan dari Kementerian Luar Negeri dan lainnya, apalagi semua akan dilakukan secara online tentu akan membutuhkan proses yang lama. Pihak Arab Saudi perlu melakukan verfikasi data jemaah umrah untuk melakukan proses refund.

“Nah jadi karena ini diproses secara online dan melibatkan berbagai pihak maka akan membutuhkan waktu agak lama ya karena ini prosesnya proses refund. Uang harus kembali, bisa saja yang diajukan secara online ternyata yang bersangkutan terbukti sudah berangkat bisa jadi proses tidak mudah harus melalui berbagai tahap verfikasi dari berbagai pihak,” ujarnya.

Selanjutnya, meski sudah memastikan jemaah umrah Kesthuri 90 persen memilih reschedule, Artha menuturkan, tetap akan ada kemungkinan jemaah lainnya akan memilih lakukan refund apabila izin umrah dari Pemerintah Arab keluar pada awal Ramadan. Pasalnya, terjadi beberapa perubahan khususnya biaya.

Sebab, biaya untuk perjalanan umrah pada bulan Ramadan 40 hingga 50 persen lebih tinggi dari biasanya, tentu akan ada penambahan biaya. Sehingga pihak penyelenggara tentu menjadwalkan kembali telah Ramadan. Selain itu, pemberlakuan visa lebih pendek yakni lamanya hari serta provider visa Arab Saudi dibatasi kuota untuk pembuatan visa.

“Jadi setiap provider visa di Saudi Arabia yang berhak mengeluarkan proses visa diberikan kuota tertentu. Misalnya satu provider 10.000 visa, maka mereka tidak bisa membuat lebih dari itu. Setiap penambahan kuota visa disesuaikan dengan jumlah jemaah yang balik umrah yang telah pulang ke negara masing-masing. Kalau 200 jemaah pulang, mereka baru dizinkan untuk membuat 200 visa, jadi sistemnya seperti itu,” terangnya.

Meski begitu, Artha memastikan para jemaah yang melakukan refund, akan menerima dana 100 persen. Pasalnya, hal ini telah ada kesepakatan semua pihak mulai dari biro perjalanan, maskapai, dan ketahui oleh Kementerian Agama (Kemag).

Sementara itu, Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kemag, Arfi Hatim mengatakan, segala kebijakan yang diputuskan pemerintah mengutamakan kepentingan jemaah umrah, para penyelenggara, dan pihak maskapai. Dalam hal ini pemerintah melalukan berbagai upaya untuk melakukan reschedule agar tanpa ada biaya tambahan bagi jemaah.

Arfi menuturkan, apabila jemaah menginginkan refund, akan berlaku syarat dan ketentuan dari pihak penyelenggara umrah. “Tentu harus bukti-bukti yang telah dikeluarkan oleh biro penyelenggara umrah itu sendiri, misalnya bapak ibu tidak mendapatkan refund 100 persen. Tolong dipahami ini untuk kesehatan pada perusahan penyedia jasa,” ujarnya.

Arfi memastikan bagi jemaah yang mau melakuikan reschedule, maka 100 persen tidak ada biaya tambahan. Sebab, hal ini adalah kondisi force major yang tidak diinginkan oleh semua pihak. Maka, pihaknya meminta semua pihak untuk memiliki empati dengan kondisi saat ini.

Sumber: BeritaSatu.com

https://www.beritasatu.com/nasional/606691/penyelenggara-umrah-90-persen-jemaah-umrah-bersedia-dijadwal-ulang