Oleh : H. Farhat Umar, MSc

Ustadz Farhat UmarJudul diatas “Saya adalah seorang muslim” merupakan penegasan terhadap identitas diri kita dalam rangka menjawab keraguan orang terhadap keislaman diri kita.   Pernahkah kita ragu untuk menunjukkan bahwa diri kita adalah seorang muslim ? atau mungkin paling tidak kita tahu bahwa ada orang yang menutupi identitas kemuslimannya ? Adakah orang yang yang apabila ditanyakan tentang agamanya, ia menjawab :”hal itu tidak penting bagi saya.”.

 

Atau apakah bapak/ibu yakin bahwa orang lain merasa yakin tentang kemusliman Bapak/Ibu ? atau pernahkah kita bergumam : “ Dia itu muslim atau tidak sih ?”

Atau pernahkah kita memasuki suatu rumah dan dalam hati kita bertanya :”muslimkah dia ?”

Atau pernahkah kita bertanya tentang orang yang kita kenal:”Apakah istrinya muslim ?

Sungguh suatu persoalan yang cukup berat dipandang dari sisi Islam, bila seseorang diragukan tentang identitas keislamannya.  Kebalikan dari itu Allah swt memuji seseorang yang dengan jelas dapat dipahami orang lain tentang keislamannya.  Orang semacam ini adalah orang yang jelas menunjukkan identitas islamnya.  Allah swt  berfirman :

“Dan siapakah yang paling baik dari orang-orang yang mengajak kepada jalan Allah, dan orang-orang yang beramal sholeh, serta orang-orang berkata sesungguhnya aku adalah muslim” (QS. 41 : 33)

Ayat di atas  menjelaskan tentang salah satu sifat hamba yang paling disukai oleh Allah swt yaitu mereka yang berani memiliki identitas keislaman dengan jelas.

Apa yang dimaksud identitas itu ?

Identitas adalah inti dan hakikat sesuatu. Bila ia dikaitkan dengan sebuah bangsa atau komunitas, maka ia adalah “karakter yang membedakannya dengan bangsa atau komunitas lain, yang sekaligus mengungkapkan kepribadian peradabannya.”

Sebuah identitas selalu mengumpulkan 3 hal: (1) Adanya kumpulan keyakinan yang diyakini kebenarannya, (2) Adanya bahasa untuk mengungkapkannya, dan (3) Adanya warisan budaya dan peradaban untuk jangka waktu yang panjang.

Identitas sebuah komunitas tentu saja sangat penting. Berbagai kepentingan manusia sesungguhnya bertitik tolak dari hal ini. Akibatnya, mempertahankan dan menjaga identitas menjadi sebuah misi penting setiap komunitas. Mengapa negara-negara Uni Eropa menolak Turki untuk bergabung bersama mereka? Karena perbedaan identitas antara mereka dengan Turki. Eropa dengan sangat jelas menegaskan bahwa mereka tidak menghendakinya ada satupun negara muslim (baca: Turki) dalam persatuan Uni Eropa. Dengan demikian, sebenarnya kekhawatiran akan terjadinya krisis identitas telah menjadi milik semua bangsa di dunia; suatu hal yang kemudian mendorong beberapa bangsa itu justru melakukan “agresi identitas” terhadap bangsa lain.

Seberapa Pentingkah Identitas Islam

Sebagaimana ayat QS. 41 : 30 di tas, bahwa Allah swt sangat memuji hambaNya yang dengan jelas menyakan bahwa dirinya adalah muslim.  Sesungguhnya penegasan seperti dipandang penting oleh Allah dan RasulNya, sebagaimana halnya ayat tersebut di atas, dijelaskan pula dalam banyak ayat lainnya, diantaranya :

Allah SWT dalam pun berfirman :

"Ibrahim bukanlah seorang Yahudi, dan bukan pula seorang Nasrani. Ia adalah seorang yang hanif (lurus hanya memper-Tuhan-kan Allah), dan muslim, oleh karena itu ia bukan dari golongan orang-orang musyrik (memper-Tuhan-kan sesuatu selain Allah)." (QS.3 : 67)

Firman Allah SWT ini mengingatkan setiap manusia, agar kembali pada identitasnya, dan Allah menegaskan ketika orang-orang  Yahudi dan Nasrani ingin mengaburkan identitas Nabi Ibrahim, Allah swt membantahnya dan menegaskan bahwa Ibrahim adalah seorang Muslim yang bertauhid, ia bukan yahudi dan bukan juga nasrani.

Dalam beberapa ayat Allah swt menyuruh Nabinya Muhammad saw dan tentu umatnya untuk menyatakan identitasnya melaui perintah untuk mengatakan kepada orang lain tentang keyakinan-keyakinan islamnya, seperti firmanNya dalam QS.112:1-4 Allah SWT berfirman,

"Katakanlah, "Dialah, Allah! Tuhan Yang Maha Esa. Ia "tempat" bergantung. Ia tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan. Serta tiada sesuatupun yang setara denganNya”

Demikian pula firmanNya :

”Katakanlah : ” Wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah, Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah, untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.” (QS 109 : 1-6) :

”Katakanlah : ”Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, sertaapa yang diberikan kepada Musa, Isa, dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan hanya kepadanya kami berserah diri (muslim).” (QS. 3 : 84)

”Katakanlah:”Sesungguhnya aku dilarang menyembah sembahan yang kamu sembah selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-2 dari Tuhanku; dan aku diperin-tahkan supaya menjadi islam (tunduk) kepada Tuhan semesta alam”.( QS.:40 : 66)

”Katakanlah :”Hai ahli kitab, marilah berpegang pada suatu kalimatyang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.  Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka ”Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim” (QS : 3 : 64)

”Dia telah memilih kamu, dan Dia (Allah) tidak menjadikan untuk kamu kesempitan dalam agama. Ikutilah agama ayahmu Ibrahim. Dia telah menamai kamu sekalian sebagaim orang-orang muslim dari dahulu.” (QS. 22 : 78)

.

Apakah  Identitas Islam itu ?

Islam adalah nama yang memiliki hakikat dan isi, sekedar mengaku/menamakan diri sebagai muslim kalau tidak sesuai dengan hakikat isinya maka itu tidaklah berarti. Allah subhaanahu wa ta'aala menjelaskan di dalam Al Qur'an tentang Islam ini

Tidak demikian bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah (sebagai muslim), sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati”. Al-Baqarah:112.

Juga firman-Nya subhaanahu wa ta'aala:

Dan. barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah (muslim), sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesunggunya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh”. Luqman:22

Dia (Allah swt) berseru :

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan……(QS. 2 : 208)

Juga firman-Nya subhaanahu wa ta' aala yang menjelaskan bahwa satu-satunya dien yang Dia ridlai adalah dien Al Islam:

“Sesungguhnya agama yang di ridhai di sisi Allah hanyalah islam”. Al-imran:19

Barangsiapa mencari agama selain agama islam, maka sekali-kali tidaklah akan  diterima agama itu daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. Al-imran : 85.

Di dalam ayat.-ayat itu Allah swt menjelaskan tentang makna Islam, keharusan memasukinya dengan sepenuhnya dan memastikan Islamlah satu-satunya agama yang Dia (Allah swt) terima  dan ridhui.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ra. berkata dalam kitab An Nubuwwat hal 127:

"Islam adalah istislaam (berserah diri) kepada Allah saja tidak kepada yang lainnya, dia beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dia tawakkal hanya kepada-Nya saja, dia hanya takut dan mengharap kepada-Nya, dan dia mencintai Allah dengan kecintaan yang sempurna, dia tidak mencintai makhluk seperti kecintaan dia kepada Allah. siapa yang enggan beribadah kepada-Nya maka dia bukan muslim dan siapa yang disamping beribadah kepada Allah dia beribadah pula kepada yanq lain maka dia bukan orang muslim". .

Beliau menjelaskan bahwa orang yang sama sekali tidak mau beribadah kepada Allah maka dia itu bukan orang Islam, ini sesuai dengan apa yang sudan pasti dalam aqidah Ahluusunnah bahwa orang yang hanya mengucapkall dua kalimah syahadat sedangkan dia itu tidak pernah beramal sama sekali selama hidupnya padahal keadaan memungkinkan untuk itu maka itu bukanlah orang Islam.

Allah subhaanahu wa ta'aala berfirman:

“Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya dan demikian itulah  yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah urang yang pertama-tama menyerahkan diri (muslim) kepada Allah". Al An' aam: 162-163.

Selain itu seorang dianggap Muslim bila telah melaksanakan rukun Islam, dan dia melaksanakannya dengan terang-terangan, tidak ada alasan bersembunyi untuk melaksanakan rukun Islam, karena ia merupakan identitas Islam seseorang.  Bukan saja hal yang rukun, bahkan semua amal Islam bahkan yang sunnah pun seperti halnya sedekah diperintahkan dengan terang-terangan. Demikian juga untuk hal-hal lain Nabi kadangkala memerintahkan untuk menegaskan pembedaan muslim dengan lainnya, seperti dalam hadistnya berikut :

“Bedakan dirimu dengan orang-orang Yahudi, mereka tidak sembahyang dengan mengenakan sandal dan selop mereka” (HR. Abu Dawud)

“Tidaklah termasuk bagian dari kami orang yang menyerupai selain kami” (HR. At-Tirmidzi)

“Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani itu lebih mewarnai rambut, maka berbedalah dengan mereka” (HR. Bukhori)

Dengan demikian seorang muslim hendaknya hanya memper-Tuhan-kan Allah SWT, dan tidak mempe-Tuhan-kan sesuatu selain Allah SWT. Jika seorang muslim telah melakukan hal ini, maka ia telah memasuki pintu gerbang Keislaman, yaitu Syahadat Ilahiah. Bila manusia ini berkenan melakukan tahapan-tahapan berikutnya dalam nilai-nilai Islam, maka ia telah menjadi muslim, atau ia telah menjadi orang yang lurus sebagaimana Rasulullah Ibrahim AS. dia ini akan semakin total Keislamannya, bila ia berkenan meneladani Rasulullah Muhammad SAW, sebagai pembawa wahyu dari Allah SWT, berupa nilai-nilai Islam, sepeninggal Rasulullah Ibrahim AS.  Jadi mengaku Islam dan menampakkan amalan Islam tidak menjamin dia itu orang Islam yang benar di sisi Allah, bila dia tidak iltizaam dengan konsekuensinya.

Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata dalam Ad Durar 1/323 dan Minhajut Ta'siis hal 61:

"Sekedar mengucapkan kaliamat syahadat tanpa mengetahui maknanya dan tanpa mengamalkan tuntutannya maka itu tidak membuat mukallaf tersebut menjadi muslim.”

"Islam itu hakikatnya adalah seorang hamba menyerahkan hatinya dan anggota badannya kepada Allah subhaanahu wa ta'aala dan dia tunduk kepadanya dengan tauhid dan ketaatan, sebagimana firman-Nya subhaanahu wa ta' aala, " Tidak demikian bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan (amal Islam), maka baginya pahala pada sisi tuhannya” Juga firman-Nya subhaanahu wa ta'aala: ”Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan(amal Islam), maka sesungguhnya ia telah berpegang; kepada buhul tali yang kokoh”. (Farhat Umar)